Penulis utama studi tersebut, Brad Parks menyebut, pihaknya tidak dapat mengidentifikasi semua akun tersebut, karena biasanya akun tersebut dirahasiakan. Namun, dia mencatat bahwa mereka telah menemukan pinjaman yang dijaminkan senilai 614 miliar dolar AS dan uang tunai merupakan sumber jaminan utama yang dibutuhkan oleh pemberi pinjaman China. Data menunjukkan jumlah di rekening escrow bisa jauh lebih tinggi dari 2,5 miliar dolar AS.
Selain itu, China juga lebih banyak bekerja sama dengan pemberi pinjaman multilateral dan bank komersial Barat. Setengah dari pinjaman non-darurat pada 2021 merupakan pinjaman sindikasi, di mana 80 persen di antaranya merupakan pinjaman dari bank-bank Barat dan lembaga keuangan internasional.
Tujuan pinjaman luar negeri China juga telah berubah. Komitmen pinjaman ke negara-negara Afrika turun dari 31 persen dari total pada 2018 menjadi 12 persen pada 2021. Sementara, pinjaman ke negara-negara Eropa meningkat hampir empat kali lipat menjadi 23 persen.