Maruarar lantas memberikan apresiasi tinggi atas performa bank tersebut yang mampu menguasai lebih dari separuh pangsa pasar nasional. Keberhasilan ini dianggap sebagai bukti nyata bahwa ekosistem pembiayaan rakyat berjalan sesuai rencana yang ditetapkan pemerintah.
"Realisasi KPP dari Bank Rakyat Indonesia mencapai 54 persen dari realisasi nasional, ini terbesar dari semua bank sehingga saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Dirut karena ini menggerakkan ekonomi luar biasa," ungkap pria yang akrab disapa Ara ini.
Luasnya jangkauan geografis Indonesia menuntut sistem distribusi pembiayaan yang tidak hanya besar secara nilai, tetapi juga merata secara kewilayahan. Perseroan memastikan bahwa seluruh jaringan kantor mereka di pelosok daerah telah diinstruksikan untuk melayani nasabah perumahan tanpa terkecuali.
Upaya ini dilakukan demi masyarakat di wilayah terpencil memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki rumah melalui skema subsidi pemerintah. Pemerataan akses keuangan menjadi prioritas utama agar dampak ekonomi dari program perumahan ini dapat dirasakan hingga ke tingkat akar rumput.
"Kami punya wilayah luas dari Sabang sampai Merauke dengan 7.500 cabang lebih, artinya pemerataan ini harus terjadi dan dijalankan sesuai sebaran titik cabang kita sehingga nasabah bisa mendatangi kantor kami di mana-mana," tutur Hery.
Selain itu, akselerasi penyerapan dana dari plafon awal sebesar Rp8 triliun untuk tahun ini habis hanya dalam kurun waktu empat bulan. Melihat tren positif tersebut, kuota pembiayaan kini ditingkatkan menjadi Rp12 triliun demi menjaga momentum pemenuhan target pembangunan tahun 2025 dan 2026.
Ara optimistis dengan kekuatan jaringan yang dimiliki BRI, target pembangunan puluhan ribu unit rumah ke depan akan tercapai lebih awal. Selain rumah tapak, pemerintah kini mulai mendorong perbankan untuk memperluas fokus pada sektor rumah susun subsidi bagi masyarakat perkotaan.