Gozali mengatakan banyak makanan olahan singkong yang sudah dikerjakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Namun, untuk skala produksi yang lebih besar dengan jaminan kualitas, perlu pendampingan dan kepastian pasar.
“Ibu-ibu sudah biasa membuat combro, ketimus, dan olahan tradisional lainnya. Kita perlu mendorong agar produk olahan tersebut menjadi lebih praktis bagi konsumen. Kalau dalam bentuk frozen dan siap saji maka tinggal dikukus atau digoreng,” ujar Abah Singkong.
Sementara itu, Asri Hartini, pemilik Asri Frozen Food, mengatakan pihaknya sudah mengekspor sejumlah frozen food ke Hongkong dalam beberapa tahun terakhir. UMKM tersebut menyasar masyarakat Indonesia dan Asia lainnya di Hongkong.
Dia mengungkapkan, pasar ekspor masih bisa ditingkatkan dan bisa melakukan kolaborasi pemberdayaan UMKM serta masyarakat. Tentu dengan kualitas, rasa dan standar produksi yang terjamin.
“Combro frozen sudah beberapa kali dikirim dan lumayan bagus responsnya. Untuk itu perlu ditingkatkan kualitas dan melakukan sejumlah inovasi agar konsumen makin tertarik,” kata Asri.
Sebagai informasi, MSI merupakan kumpulan sejumlah petani, pelaku usaha, peneliti/pakar, praktisi olahan singkong hingga pemerhati yang intens mendorong optimalisasi singkong. Selain untuk kepentingan pangan (siap saji), olahan singkong juga merupakan bahan baku industri, seperti farmasi dan industri makanan.