Prambanan Tak Sekadar Destinasi Wisata, Kini Jadi Simbol Diplomasi Budaya Indonesia
YOGYAKARTA, iNews.id - Komitmen Pemerintah India untuk membantu restorasi Kompleks Candi Prambanan memasuki tahap yang lebih konkret. Ini perkembangan informasinya.
Jadi, setelah disepakati dalam pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi pada Januari 2025, kerja sama tersebut kembali ditegaskan dalam Joint Commission Meeting Indonesia-India di New Delhi pada pertengahan 2026.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebelumnya menyebut pemugaran di Kompleks Candi Prambanan baru mencakup sekitar 30 candi utama. Sementara itu, ratusan candi perwara masih menunggu proses restorasi karena sebagian besar masih berupa susunan batu yang belum direkonstruksi.

Dalam pertemuan bilateral terbaru, India menyatakan kesiapannya terlibat langsung dalam proses restorasi. Tim Archaeological Survey of India (ASI) bersama Kementerian Kebudayaan RI juga telah membahas tahap awal dokumentasi struktur candi. Kerja sama tersebut tidak hanya mencakup Prambanan, tetapi juga kawasan Candi Sewu dan Plaosan.
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya, I Kadek Andre Nuaba, menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Prambanan kini memiliki peran yang lebih luas dibanding sekadar destinasi wisata sejarah.
"Kerja sama ini bukan sekadar soal pelestarian cagar budaya, melainkan penanda bahwa Prambanan kini menempati posisi yang jauh lebih strategis dalam hubungan luar negeri Indonesia," tulis Kadek dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Menurut dia, sejak ditetapkan sebagai pusat rumah ibadah umat Hindu Indonesia dan dunia pada 2022, Prambanan mulai diarahkan untuk menjalankan fungsi yang lebih beragam, mulai dari wisata religi, penguatan hubungan budaya dengan negara lain, hingga memperkenalkan Indonesia sebagai negara yang mampu menjaga warisan budaya Hindu di tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam.
Peran tersebut juga terlihat dari semakin aktifnya penyelenggaraan kegiatan keagamaan dan budaya di kawasan candi. Salah satunya melalui Shiva Festival International 2026 yang berlangsung selama satu bulan sebagai forum budaya dan spiritual berskala internasional.
Data kunjungan wisata religi ke Prambanan juga menunjukkan tren peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Jumlah kunjungan tercatat mencapai 23.090 orang pada 2023, meningkat menjadi 25.427 orang pada 2024, dan kembali naik menjadi 25.675 orang sepanjang 2025.
Kadek menjelaskan, dalam kajian heritage diplomacy, warisan budaya tidak lagi dipandang hanya sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen diplomasi antarnegara.
"Dalam kerangka ini Prambanan telah melampaui fungsi objek pelestarian atau situs budaya semata. Candi ini telah difungsikan sebagai medium strategis dalam politik luar negeri Indonesia," ujarnya.
Meski demikian, pengembangan Prambanan sebagai destinasi wisata religi sekaligus ruang diplomasi budaya tetap memerlukan pengelolaan yang seimbang.
Sebagai situs warisan dunia UNESCO yang masih digunakan sebagai tempat ibadah, kawasan ini juga menjadi ruang bertemunya berbagai kepentingan, mulai dari pelestarian budaya, kegiatan keagamaan, penelitian, hingga pariwisata.
Kadek menyebut sejumlah pengaturan teknis telah diterapkan dalam pengelolaan kawasan, seperti pembatasan penggunaan dupa dan cairan tertentu saat ritual, pengaturan kuota peserta ibadah, mekanisme perizinan, hingga pembahasan mengenai pembatasan akses wisatawan ke Candi Siwa untuk menjaga kesakralan situs.
Ia menambahkan, ketika restorasi bersama India mulai berjalan, tata kelola akan menjadi aspek penting agar proses konservasi dapat berjalan beriringan dengan aktivitas keagamaan, pelestarian budaya, dan kunjungan wisata.
"Yang lebih menentukan adalah bagaimana Indonesia menjaga keseimbangan antara diplomasi, konservasi, praktik keagamaan, dan kepentingan publik secara berkelanjutan, dengan kerangka tata kelola yang jelas," tutupnya.
Editor: Muhammad Sukardi