Panggung Desa dan Penunggu Tak Terlihat, Sisi Lain Pertunjukan Jaipong
JAKARTA, iNews.id – Di balik keindahan Tari Jaipong, berkembang pula berbagai cerita yang dipercaya sebagian masyarakat. Dalam episode Kata Mereka kali ini, Bang Robby mengulas sisi lain Tari Jaipong yang kerap dikaitkan dengan unsur spiritual dan kepercayaan lokal.
Dalam budaya Sunda, kepercayaan terhadap roh leluhur atau karuhun masih hidup dikalangan masyarakat dan juga dalam berbagai tradisi. Sebelum pementasan besar, khususnya di desa atau acara adat, sering kali dilakukan doa bersama sebagai bentuk penghormatan. Ritual ini dipercaya untuk dapat menjaga kelancaran pertunjukan dan menghindari gangguan yang tidak diinginkan.
Para penari pun juga memiliki pantangan yang harus dijaga. Mereka tidak diperbolehkan berkata kasar, bersikap sombong, atau memiliki niat buruk sebelum naik panggung. Pemain gendang sebagai pengiring utama juga dipercaya harus dapat menjaga sikap, karena gendang dianggap memiliki energi tersendiri.
Beberapa cerita menyebutkan bahwa jika pantangan dilanggar, penari bisa mendadak lupa gerakan, merasa tubuhnya berat, bahkan mengalami kesurupan di atas panggung. Ada pula kisah tentang suara gamelan yang tiba-tiba terdengar sumbang tanpa sebab teknis yang jelas.
Bang Robby juga menyinggung legenda tentang selendang merah yang diwariskan turun-temurun di salah satu sanggar Jaipong. Konon, pada awal perjalaannya selendang tersebut dahulu milik seorang ronggeng pada masa kolonial yang meninggal secara misterius setelah pertunjukan besar. Sejak saat itu, muncul cerita bahwa selendang itu menyimpan “energi” dari sang penari yang terakhir kali menggunakannya.