Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Prabowo soal Bangun Jalur Kereta Trans Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi: Biaya Logistik Akan Turun
Advertisement . Scroll to see content

Menyusuri Trans Kalimantan, Menguji Adrenalin di Rute Nanga Tayap

Rabu, 28 Februari 2018 - 08:12:00 WIB
Menyusuri Trans Kalimantan, Menguji Adrenalin di Rute Nanga Tayap
Peserta touring Jejak Roda BMWMC berhenti sejenak di Jembatan Tayan, Kalimantan Barat. (Foto-foto: BMWMC).
Advertisement . Scroll to see content

PONTIANAK, iNews.id - Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi petualang bersepeda motor selain mendatangi tempat baru yang belum pernah dilewati. Itu pula sebabnya penggemar touring akan punya keinginan untuk menjejakkan roda sepeda motornya di jalanan tersebut.

Jejak Roda, menjadi tema utama perjalanan BMW Motorcycle Club (BMWMC) Jakarta, klub sepeda motor yang sudah 40 tahun terbentuk di Jakarta dan khusus bagi penggemar motor pabrikan BMW Jerman. Jejak Roda melintasi tanah Borneo belum lama ini.

Persiapan selama berbulan-bulan dilakukan di sekretariat BMWMC, Jalan Salam, Pejompongan Jakarta Pusat. Diskusi rute maupun persiapan kondisi motor serta kemampuan fisik para peserta dimulai dari sini. Tentu kami sadar bukan yang pertama menjelajahi bumi Kalimantan. Banyak petualang bersepeda motor yang jauh lebih dahsyat kisah perjalanannya, baik dari segi rute maupun motor yang digunakan.

Namun bagi peserta Jejak Roda BMWMC, perjalanan sejauh lebih dari 2.000 kilometer (km) termasuk rute-rute wisata dengan melewati empat provinsi tetap istimewa karena motor yang dipacu adalah BMW kesayangan, yang tak lagi baru. Menariknya lagi, peserta touring ini tak lagi muda, bahkan ada peserta yang berusia di atas 70 tahun. Namun tekad dan semangat serta dukungan kolega serta keluarga makin memantapkan perjalanan ini.

Memulai start dari Hotel Golden Tulip, Pontianak, Kalbar.

Sebanyak 13 orang dengan 9 motor dan sebuah mobil telah siap untuk memulai perjalanan dari Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Sebelum memulai kami melapor pada Direktorat Lalu Lintas Polda Kalbar dan bertemu dengan AKBP Dafco yang banyak memberikan masukan tentang jalur touring. Jangan salah, meski melapor kepada aparat setempat, BMWMC tidak pernah meminta pengawalan apalagi vooridjer saat melakukan perjalanan.

Tidak ada satu pun motor kami yang dilengkapi dengan sirine dan hanya mengandalkan klakson biasa sebagaimana pengguna jalan lain. Bukan apa-apa karena kami pun hanya pengguna jalan biasa.

Rombongan Jejak Roda terdiri atas Boy Komarudin Unyil yang menggeber motor BMW jenis R51 keluaran tahun 1953, Rizal Erye (R100 RS tahun 1984), Hidra Simon (R80 G/S tahun 1984), FeryParikesit (R80 G/S tahun 1984), Eka Ies Dewi alias bu Uchi dan Lexi (R80 tahun 1986), Ervien Jubrihardjo dan Elis Utami Kasno (R100GS PD tahun 1994), Budhi Dharma Yuswar (R100 GS tahun 1994), Bambang Prabowo (R100R tahun 1996), H Soderi (R1200 C tahun 2000), Wahidinudin (senior mechanic), dan Isay, storing hilux crew.

Perjalanan Dimulai

Pukul 08.00 WIB dari Hotel Golden Tulip Pontianak tim sudah siap berangkat. Usai sarapan, kami masih tergoda untuk mencicipi makanan khas Pontianak yang terkenal, yaitu es krim kelapa Angi. Ini adalah es krim yang disajikan dalam batok kelapa sehingga bisa dinikmati sambil mengerok kelapa.

Tepat pukul 09.30 WIB perjalanan meninggalkan Pontianak. Sinar matahari mulai terasa terik dan menusuk kulit. Di Kalimantan yang memiliki ribuan jembatan, menjadi ciri khas bila pelintas pulau memulai titik nolnya dari jembatan terkenal. Tentu saja jembatan Kapuas yang dibangun 80-an menjadi perlintasan kami pertama. Selanjutnya target perjalanan ini menuju perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, yaitu kota Nanga Tayap.

Es krim yang disajikan di batok kelapa muda.

Jarak Pontianak ke Nanga Tayap 558 km melalui daerah Sosok. Namun, sejak diresmikannya jembatan baru yang membelah Sungai Kapuas, untuk mencapai Kalimantan Tengah cukup ditempuh dalam rentang jarak 358 km alias terpangkas 200 km. Kami memotong jalan menuju ke Tayan, melintasi Kabupaten Sanggau, menuju Jembatan Tayan sambil mencecap indahnya Sungai Kapuas.

Jembatan Tayang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 22 Maret 2016. Ini jembatan terpanjang di Kalimantan serta terpanjang kedua di Indonesia setelah Suramadu.

Perjalanan menuju ke Jembatan Tayan sangat menyenangkan. Jalan yang mulus dan lebar, cuaca yang bersih dan cenderung sepi dari kendaraan membuat rombongan bisa memacu motor BMW dengan cukup kencang antara 90 km/jam hingga 120 km/jam. Jalanan pun cenderung datar dan lurus mengingat Kalimantan Barat memang tak memiliki kawasan berbukit.

Sebelum mencapai Jembatan Tayan, kami menyempatkan salat Jumat di Masjid Al Furqon,
salah satu masjid di Jalan Pembangunan, Tayan. Ada cerita tersendiri ketika hendak menunaikan ibadah ini.

Menemukan masjid di wilayah Kalbar lumayan sulit. Meski umat muslim mencapai 59 persen dari populasi Kalbar, namun kebanyakan tinggal di wilayah utara dan rata-rata kaum pendatang dari Jawa dan Bugis. Sedangkan di wilayah selatan, sekitar 34 persen penduduknya merupakan umat Kristiani yang banyak dipeluk suku Dayak dan Tionghoa. Tak heran bila antara Pontianak hingga Nanga Tayap di hampir semua desa terdapat gereja.

Siang itu setelah puas berfoto di JembatanTayan kami menikmati makan siang di ujung Jembatan Tayang yang sudah masuk wilayah Teraju. Di wilayah ini warung makan terbilang langka dan kami beruntung tidak melewatkan warung makan Pak Hadi. Asal tahu, setelah itu hampir tak ada lagi warung makan kecuali warung-warug kopi kecil.

Usai makan siang, kami kembali berhadapan dengan jalanan yang sepi, jauh dari perkampungan penduduk. Kendaraan pun sedikit sekali melintas. Di tengah cuaca cerah dan terik matahari,  kadang terasa sangat panas bila melalui deretan perkebunan kelapa sawit.

Namun cuaca berubah adem saat melalui hutan belukar liar, apalagi jalanan berkelak-kelok membuat adrenalin terpacu untuk menarik kencang gas kendaraan sekaligus menguji nyali berbelok rebah di atas sepeda motor tua 1.000 cc.

Tak banyak aktivitas di sekitar kawasan ini. Karena itu yang bisa kami dengar hanya desir angin dan raungan knalpot yang mudah-mudahan tak mengganggu hewan-hewan alam liar siang itu. Setelah sempat minum kopi dan melepas lelah, kami melanjutkan perjalanan.

Senja mulai lindap, malam menyambut. Dibanding pagi dan siang yang penuh nuansa antusiasme, perjalanan di rembang petang itu mulai memunculkan rasa was-was. Betapa tidak, pom bensin tak satu pun terlihat buka di sepanjang jalur Tayan hingga Nanga Tayap itu. Tapi, toh semuanya berjalan lancar.

Salah satu pemandangan alam di jalur Tayan-Nanga Tayap.

Menikmati Nanga Tayap

Sekitar pukul 19.00 WIB kami menginjakkan roda di Nanga Tayap dan menyempatkan makan malam di warung pusat kota kecamatan ini. Tentu saja sekalian mengisi bensin yang harus dibeli dari penjual eceran seharga Rp9.000 / liter. Biarlah, yang penting besok kami melanjutkan perjalanan dengan aman, meski sesungguhnya persediaan bensin 3 jerigen besar juga tersimpan di bak belakang mobil yang dikemudikan Isay, sopir kami.

Malam itu kami menginap di Hotel Dakota, satu-satunya hotel di Nanga Tayap. Dan beruntung karena masih tersedia empat kamar ber-AC. Jadilah setiap kamar diisi 3 orang. Wajar saja bila harus berdesakan karena udara terasa amat gerah. Ya, kami memutuskan menjaga kondisi fisik/ Karena itu istirahat harus nyaman.

Pelajaran penting awal perjalanan Trans Kalimantan adalah memperkirakan kapasitas bensin dan jangan segan membawa bekal bensin cadangan sebelum perjalanan. Selain itu, tak ada salahnya menyimpan roti atau kue di dalamtas, karena warung makan tak bisa diprediksi jaraknya. Pelajaran pertama.* (bersambung).


*Penulis


Rizal Yusacc
BMWMC Jakarta

Editor: Zen Teguh

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut