Mengenal Kebiasaan Baru di Era Digital yang Wajib Diketahui
JAKARTA, iNews.id - Di tengah masa transformasi digital, masyarakat harus bijak dalam bermedia sosial. Menjaga etika sangat penting, sebab Indonesia merupakan negara yang memiliki perbedaan budaya, bahasa, agama, dan adat-istiadat.
Namun, perbedaan tersebut seharusnya tidak menjadi persoalan apabila setiap masyarakat mengedepankan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sebagaimana di dunia nyata, sikap saling menghormati antar sesama juga harus dapat diaplikasikan di dunia maya.
Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Eko Pamuji mengatakan, budaya digital merupakan kebiasaan baru masyarakat atas hasil olah pikir, kreasi, dan cipta karya yang berbasis teknologi internet. Contohnya, menggelar webinar, pendidikan online, transportasi online, penggunaan media sosial, ataupun berbelanja secara online.
"Sekarang ini, pendidikan multikulturalisme kepada warganet sangat diperlukan sehingga dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat, Indonesia memiliki budaya yang berbeda-beda," ujar Eko Pamuji melalui keterangannya belum lama ini.
Menurut dia, memahami multikulturalisme juga untuk menghindari sejumlah hal negatif seperti disparitas kelompok ekonomi atas dan bawah serta menghindari salah paham antar budaya yang kerap menjadi sebab konflik sosial.
"Sebagai pengguna internet harus tahu kita berada di ruang yang berbeda-beda atau beraneka budaya dan keragamannya, tetapi tetap satu. Indonesia harus di atas segala-galanya,” kata dia.
Dosen Fisikom Universitas Pancasila, Anna Agustina menjaga etika dalam bermedia sosial sangat penting. Keberagaman masyarakat Indonesia tidak hanya mencakup dalam hal budaya dan agama, namun juga meliputi profesi, pendidikan, pendapatan, ataupun gaya hidup.
Anna menambahkan, warganet harus berhati-hati menyikapi perbedaan ini ketika berinteraksi di internet, yakni dengan saling menghormati antara sesama sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Internet sejatinya merupakan anugerah yang harus disyukuri, namun hal tersebut justru bisa berubah menjadi bencana jika teknologi dijalankan tanpa etika.
"Harus selalu menyadari kita berinteraksi dengan manusia nyata di jaringan lain, bukan sekadar dengan deretan karakter huruf di layar monitor, namun dengan karakter manusia yang sesungguhnya. Jadi, kita harus tetap berhati-hati agar tidak merugikan orang lain,” ujarnya.
Ketua Prodi Manajemen Ritel dan Motivator, Amin Hamdat menambahkan, di era internet dan media sosial ini, warganet Indonesia harus mampu meningkatkan kecakapan digital, yakni dengan mengetahui dan memahami ragam maupun perangkat lunak yang menyusun lanskap digital.
Sebagai contohnya, lanjutnya, memanfaatkan fitur proteksi dari serangan siber, optimalisasi mesin pencarian sehingga bisa mampu menyeleksi sekaligus memverifikasi informasi yang tersedia. Selain itu, warganet juga diharapkan dapat mengenal ekosistem transaksi daring yang meliputi pemanfaatan dompet digital, lokapasar, dan transaksi digital agar bisa menghindarkan diri dari potensi yang dapat merugikan.
"Beberapa dampak negatif akibat penggunaan smartphone (gawai) misalnya menjadi kurang peka dalam membaca bahasa tubuh karena interaksi sosial kita semakin jarang atau malas menyapa teman dengan sapaan yang baik," kata Amin Hamdat.
Dia menambahkan, dulu biasanya kita biasa angkat telepon dengan memulainya dengan salam, tetapi sekarang sudah mulai jarang. Inilah mungkin kebudayaan timur atau nilai-nilai Pancasila yang harus dikembalikan, budaya untuk menyapa selamat pagi dan lain sebagainya," tuturnya.
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.
Editor: Vien Dimyati