Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jelang Imlek 2026 Wihara Dharma Jaya Mulai Pasang Lilin Doa, Intip Persiapannya!
Advertisement . Scroll to see content

Makna Filosofis di Balik Ritual Cuci Rupang di Imlek 2026, Cari Tahu di Sini!

Minggu, 15 Februari 2026 - 19:25:00 WIB
Makna Filosofis di Balik Ritual Cuci Rupang di Imlek 2026, Cari Tahu di Sini!
Ada makna filosofis di balik ritual cuci rupang di Imlek. (Foto: Niko Prayoga)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026, suasana di berbagai wihara mulai terasa. Salah satunya adalah menjalani ritual Cuci Rupang, budaya membersihkan patung dewa dewi di kelenteng yang biasa dilakukan sebelum Imlek.

Seperti yang sudah dilakukan di Kelenteng Toa Se Buo, pengurus kelenteng telah melakukan Cuci Rupang sejak seminggu sebelum Imlek. 

Cuci Rupang bukan hanya sekadar bersih-bersih, namun itu merupakan ritual sakral yang menyentuh sisi spiritual. Tradisi itu adalah wujud penghormatan yang mendalam bagi umat yang akan beribadah.

Karyawan Bagian Pelayanan Umat Kelenteng Toa Se Bio Hendro Budi Santoso mengatakan, kebersihan tempat ibadah termasuk rupang adalah fondasi utama untuk menciptakan suasana doa yang khusyuk dan menyambut umat dengan tangan terbuka serta hati yang tenang.

"Kalau kami filosofinya sebenarnya kalau untuk menyambut Imlek ini memang wajib yang namanya bersih-bersih dan juga supaya kelihatan satu tempat nyaman dan juga bersih kan apalagi ini tempat ibadah, wajib yang namanya bersih supaya umat yang datang ke sini, berdoa dan beribadah menjadi nyaman," kata Hendro saat diwawancarai, Minggu (15/2/2026).

Ia menjelaskan, ada tata cara tersendiri dalam proses pencucian rupang. Proses tersebut harus dimulai dengan ritual doa sebagai bentuk permohonan izin kepada para dewa-dewi. Selain itu, air yang digunakan juga haruslah air bunga.

"Kalau untuk memandikan rupang itu ada yang namanya ritual. Nah, itu kami berdoa dulu seperti meminta izin kepada dewa dewi yang ada di sini. Kemudian setelah berdoa baru kami memandikan dan memandikannya dengan air bunga,” ucap dia.

Hendro menegaskan, penggunaan bunga tidak ada hubungannya dengan hal mistis. Air bunga digunakan agar memberikan sentuhan wewangian yang alami kepada rupang.

"Bukan semata-mata bunga harus yang macam-macam atau dikaitkan dengan hal mistis bukan. Itu supaya patung dewa dewi bersih dan juga supaya wangi," tegas Hendro.

Setelah dimandikan dengan air bunga, setiap rupang kemudian dilap hingga kering menggunakan kain bersih sebelum diletakkan kembali ke altar. Hal tersebut membuat rupang lebih cerah dan memudahkan umat untuk memandang sosok dewa dewi yang mereka muliakan.

"Supaya nanti umat yang datang ke sini melihat rupang yang ada di sini itu bisa melihat dengan jelas rupang atau patung dewa dewi yang ada di sini itu menjadi lebih cerah, lebih bagus gitu,” beber dia.

Sementara, untuk tradisi menyalakan lilin di malam Sacapne atau malam perayaan Imlek, memiliki makna filosofis selipan doa dan harapan bagi setiap keluarga yang merayakan agar langkah mereka selalu diterangi kebaikan.

"Lilin sendiri ini memiliki makna. Maknanya adalah supaya umat yang bersangkutan keluarganya diberikan penerangan, penerangan dalam kehidupan, kelancaran rezeki, dan perlindungan, seperti itu,” kata Hendro.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut