Liburan ke Yogya, Wisata Candi di Sleman Siap Dieksplor saat Lebaran
JAKARTA, iNews.id - Momen libur Lebaran tinggal menghitung hari. Kesempatan ini menjadi ajang berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara. Jika Anda belum merencanakan agenda liburan bersama, Sleman bisa menjadi pilihan.
Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta ini, memiliki banyak destinasi menakjubkan untuk dikunjungi. "Sleman itu gudangnya candi. Salah satunya adalah Candi Banyunibo. Tanpa menafikan yang lain, Banyunibo memiliki keistimewaan khususnya bagi anak muda GenPI. Di kawasan ini ada embrio pasar digital Banyunibo. Sebuah destinasi digital besutan GenPI Jogja yang mengusung konsep kekinian,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, dikutip melalui Instagram @genpijogja, Rabu (6/6/2018).
Lantas, apa saja candi yang dapat Anda eksplor ketika berada di Sleman, Yogyakarta? Berikut ulasan yang dirangkum iNews.id.
Candi Sambisari
Yogyakarta memiliki sebuah candi yang lokasinya cukup unik, terletak kira-kira 6,5 meter lebih rendah dari permukaan tanah. Candi dengan lokasi unik tersebut adalah Candi Sambisari. Dibangun sekitar abad ke-9 pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung, candi Hindu ini sempat terkubur material vulkanik Merapi. Kemudian pada 1996, ada seorang petani Dusun Sambisari yang tanpa sengaja menemukan candi yang terkubur berabad-abad ini. Setelah dilakukan proses eskavasi, Candi Sambisari kembali menampilkan sosoknya yang anggun dan megah.
Candi Banyunibo
Candi Banyunibo adalah candi Buddha abad sembilan yang terletak di Dusun Cepit, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini diperkirakan berasal dari era Kerajaan Mataram Kuno. Candi berdiri di sebuah lembah sempit yang dikelilingi sawah sekitar dua kilometer tenggara taman arkeologi Ratu Boko di sisi timur Yogyakarta. Lebih jauh ke utara adalah Candi Prambanan dan selatan adalah perbukitan Gunung Sewu, perpanjangan bukit Gunung Kidul.
Candi Ijo
Candi Ijo dibangun sekitar abad sembilan di bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo. Bukit ini memiliki ketinggian sekitar 410 m di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras, seperti pertanian dengan kemiringan yang curam. Meski bukan daerah yang subur, pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati.
Candi Barong
Menurut sejarah, candi yang diperkirakan dibangun antara abad Sembilan dan 10 ini sebenarnya bernama Candi Suragedug. Namun, hiasan sosok raksasa menyeramkan yang menghias pintu masuk candi berbentuk barong di tiap sisi bangunan. Karena itu, masyarakat sekitar lebih senang menjulukinya Candi Barong. Kala-kala barong di candi ini dalam mitologi Hindu dipercaya sebagai makhluk penjaga kesucian bangunan. Alih-alih menyeramkan seperti kala pada bangunan lainnya, barong-barong ini malah terkesan memberikan senyuman. Selain barong, ornamen unik lain yang menghias candi ini adalah Ghana, si raksasa kerdil yang menopang relung candi.
Candi Abang
Candi Abang tidak memiliki bentuk seperti candi pada umumnya. Di candi ini, pengunjung tidak akan menemukan susunan batuan megah dengan pahatan relief, melainkan sebuah gundukan tanah seperti bukit telletubies. Dalam bahasa Jawa, kata abang berarti merah. Candi Abang berarti candi yang berwarna merah. Berbeda dengan candi-candi lain yang disusun dari batuan andesit yang berwarna hitam, Candi Abang terbuat dari susunan batu bata berwarna merah serupa dengan bangunan candi di Mojokerto. Karena itulah, candi ini dinamakan Candi Abang.
Editor: Vien Dimyati