Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Panggung Desa dan Penunggu Tak Terlihat, Sisi Lain Pertunjukan Jaipong
Advertisement . Scroll to see content

Kiriman Gaib Tak Terlihat, Dendam Merenggut Keutuhan Keluarga

Jumat, 27 Februari 2026 - 17:26:00 WIB
Kiriman Gaib Tak Terlihat, Dendam Merenggut Keutuhan Keluarga
Setelah bertahun-tahun menghadapi teror yang diduga bermula dari konflik masa lalu, keluarga Nisa kembali diuji. (Foto: SMN)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Setelah bertahun-tahun menghadapi teror yang diduga bermula dari konflik masa lalu, keluarga Nisa kembali diuji pada akhir 2016. Sang ayah yang selama ini menjadi sosok paling kuat di rumah mendadak jatuh sakit.

Awalnya hanya sesak napas dan kelelahan. Namun kondisi itu terasa berbeda. Ayahnya kerap terbangun sambil bergumam, “Jangan ke situ, seram.” Padahal di mata Nisa, tak ada siapa pun di ruangan tersebut. Tubuh sang ayah terasa hangat, namun kakinya dingin.

Dua rumah sakit yang dikunjunginya menyatakan banhwa kondisi paru-parunya normal. Namun saat diperiksa di rumah sakit spesialis paru-paru, hasil rontgen menunjukkan sesuatu yang ganjil. Paru-paru sang ayah terlihat tampak bengkok, dan terdapat benjolan kecil seukuran ibu jari yang disebut dokter “bergerak” di dalamnya. Dokter pun kebingungan karena hasil tersebut berbeda dengan pemeriksaan sebelumnya.

Di sisi lain, melalui pengobatan alternatif, keluarga sempat menyaksikan sesuatu yang tak kalah mengejutkan. Dari punggung sang ayah disebut keluar jarum dan silet berkarat. Namun alih-alih membaik, kondisinya justru semakin menurun. Sang ayah harus menggunakan oksigen dan lebih banyak terbaring.

Hal yang paling membuat Nisa terpukul adalah perubahan sikap sang ayah di rumah sakit. Setiap kali ia datang menjenguk, ia justru kesurupan. Seperti ada sesuatu yang menolak keberadaan Nisa di dekat sang ayah. Bahkan ayahnya beberapa kali meminta agar Nisa pulang dan tidak menginap atau berada di dekatnya.

Menjelang wafat, seorang peruqyah meminta ayahnya memejamkan mata dan membaca doa. Setelah itu, sang ayah meminta pulpen dan kertas. Dia menuliskan satu nama—nama perempuan yang diduga menjadi dalang di balik semua peristiwa. Kertas itu diberikan kepada sepupu dengan pesan agar tidak dibuka sembarangan. Tak lama kemudian, di bulan Ramadan, sang ayah berpulang dalam keadaan berzikir. Mulutnya masih bergerak melafalkan doa sebelum akhirnya terdiam seperti tertidur.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut