Ketahui Bahaya Penggunaan Kemasan Plastik Makanan dan Minuman Sekali Pakai
JAKARTA, iNews.id - Limbah plastik masih menjadi persoalan yang belum selesai. Diketahui, sampah plastik masih menjadi masalah utama di berbagai negara.
Kemasan plastik dari makanan hingga minuman dapat mengancam tercemarnya lingkungan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 2020 Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah.
Terkait sampah plastik, hasil penelitian Sustainable Waste Indonesia (SWI) dan Indonesian Plastic Recyclers (IPR) pada 2020 lalu mencatat, produksi limbah kemasan plastik di perkotaan Pulau Jawa mencapai sekitar 189.000 ton per bulan atau 6.300 ton per hari. Sayangnya hanya sekitar 11,83 persen atau sekitar 22.000 ton per bulan yang didaur ulang.
Pegiat lingkungan hidup dan juga founder & CEO Evoware, David Christian mengatakan, produsen makanan dan minuman harus bertanggung jawab dalam mengolah kemasan plastik yang dihasilkan. Mereka bisa mengolah kembali kemasan tersebut atau recycle.
"Penggunaan kemasan plastik sekali pakai semisal kemasan air minum, bisa menimbulkan masalah baru di lingkungan," ujar David, melalui keterangannya dikutip Kamis (9/6/2022).
Menurut dia, persoalannya bukan hanya pada kemampuannya untuk bisa didaur ulang atau di-recycle, tapi bagaimana cara kemasan plastik sekali pakai ini tak tercecer di lingkungan. "Potensi tercecernya masih besar, apa pun yang sekali pakai," kata David.
Pegiat laut bersih yang aktif di bawah Yayasan Penyelam Lestari Indonesia atau Divers Clean Action (DCA), Swietenia Puspa Lestari mengatakan, untuk mencegah penumpukan limbah kemasan plastik di permukaan tanah dan di perairan, penting bagi perusahaan-perusahaan produsen produk berkemasan plastik untuk menerapkan ekonomi sirkular.
"Saya setuju dengan penerapan ekonomi sirkular, dan sesuai dengan hierarki pengolahan sampah, kita harus mengurangi sampah dari sumbernya. Dalam arti kita ikut mengedukasi masyarakat untuk menolak penggunaan kemasan yang tidak bisa didaur ulang, atau yang sekali pakai,” ujarnya.
Dia menjelaskan, penggunaan kemasan guna ulang, walaupun masih berbahan plastik tidak masalah. Sebab penggunaan plastik sekali pakai berisiko meningkatkan volume timbunan sampah yang malah mencemari lingkungan.
Sementara itu, Ujang Solihin Sidik, Kasubdit Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah KLHK, mengatakan, pihaknya ingin menyoroti dampak dari limbah kemasan air minum terhadap lingkungan, dan bagaimana kebijakan pemerintah dalam konteks pengelolaan sampah, khususnya sampah kemasan dari air minum dalam kemasan (AMDK).
"Ada tantangan yang harus menjadi perhatian kita semua terkait dengan kemasan AMDK, karena kita melihat kemasan plastik seperti PET (Polyethylene terephthalate) yang didaur ulang menjadi botol PET kembali masih sangat kecil. Sebagian besar kemasan PET yang umumnya digunakan untuk kemasan pangan justru menjadi polutan atau sampah buat lingkungan," ujar Solihin.
Editor: Vien Dimyati