Kemeriahan Umat Tionghoa di Wihara Dharma Bakti Merayakan Tradisi Cap Go Meh
JAKARTA, iNews.id - Momen perayaan Cap Go Meh disambut dengan meriah. Perayaan ini biasanya diselenggarakan 14 atau dua minggu setelah Hari Imlek.
Momen ini menjadi penutup dari serangkaian perayaan Imlek. Biasanya umat Khonghucu dan Buddha turut meramaikan perayaan Cap Go Meh.
Masyarakat Tionghoa yang tinggal di Jakarta maupun dari berbagai daerah turut berdatangan untuk merayakan Cap Go Meh di salah satu klenteng tertua di Jakarta, Wihara Dharma Bakti. Klenteng ini berlokasi di kawasan Petak Sembilan, Glodok.
Chen (42), warga asal Jakarta menyempatkan waktu akhir pekan untuk melaksanakan ibadah Cap Go Meh di Wihara Dharma Bakti.
Chen mengatakan, Perayaan Cap Go Meh tidak kalah penting dengan Hari Imlek, sebab keduanya menjadi suatu kesatuan yang lekat. Tradisi yang masih dianut oleh Chen dan keluarga dalam merayakan Cap Go Meh itu dimulai dengan berdoa atau bersembahyang di Wihara Dharma Bakti.
“Cap Go Meh adalah hari ke-15 sebenarnya penutupan Perayaan imlek. Awalnya kan tanggal 1 kemarin pas di Imleknya ya. Biasanya kami akan berdoa, meminta supaya diberikan berkat perlindungan dan dirayakan dengan lontong Cap Go Meh,” kata Chen kepada di Wihara Dharma Bakti Glodok, Sabtu (24/2/2024).
Setelah sembahyang, tradisi yang tak boleh ketinggalan bagi keluarga Chen yaitu makan Lontong Cap Go Meh. Kuliner Lontong Cap Go Meh ini menjadi salah satu kuliner khas yang dimakan dalam perayaan Cap Go Meh.
“Tradisi yang sudah turun-temurun dari para orang tua kami itu biasanya pagi sembahyang, nanti siang sampai ke malam itu merayakan bersama untuk makan lontong Cap Go Meh,” ujarnya.
Lontong Cap Go Meh berisikan berbagai macam kondimen yang menyatu di lidah saat disantap. Umumnya menu ini terdiri atas lontong yang diguyur sayur lodeh dan dilengkapi beberapa lauk sebagai pelengkap seperti opor ayam, ayam kare, telur tebus, dan kerupuk.
Meski kedengarannya sama dengan lontong sayur pada umumnya, Lontong Cap Go Meh ini menjadi spesial karena hanya ditemukan pada Cap Go Meh. Terlebih jika dinikmati bersama keluarga besar, tentu akan menghadirkan sensasi yang lebih spesial.
Chen mengungkap, memakan Lontong Cap Go Meh itu memiliki tujuan agar selalu terlindungi dan membawakan keberuntungan sepanjang tahun yang baru.
“Makna salah satunya ya supaya terlindungi, karena isinya itu kan banyak. Supaya sepanjang tahun diberikan kelancaran,” ujar Chen.
Meski identik dengan pertunjukan khusus, Wihara Dharma Bakti pun tidak mengadakan acara khusus seperti perarakan patung dan pertunjukkan barongsai di hari Cap Go Meh. Sebab dari tahun ke tahun Wihara Dharma Bakti hanya membuka untuk beribadah secara pribadi saja.
Sebagai umat, Chen mengaku tidak masalah akan hal tersebut. Dia beranggapan inti dari perayaan Cap Go Meh seharusnya berasal dari hati para umatnya.
“Sebenarnya ya memang semacam simbolik perayaan aja. Tapi perayaan itu sendiri intinya adalah perayaan dari hati masing-masing. Saya hanya berharap keadaan ke depannya itu selalu lancar, baik secara keluarga juga untuk bangsa ini,” katanya.
Editor: Vien Dimyati