Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Tak Lagi Jauh, Tanjung Lesung Jadi Primadona Wisata Baru Jabodetabek
Advertisement . Scroll to see content

5 Daya Tarik Monumen Kilometer Nol Indonesia di Aceh, Mana Paling Disukai?

Senin, 03 Mei 2021 - 13:37:00 WIB
5 Daya Tarik Monumen Kilometer Nol Indonesia di Aceh, Mana Paling Disukai?
Menjelajahi Destinasi Kilometer Nol Indonesia (Foto: Instagram @Sandiuno)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Ada banyak destinasi menarik di Aceh yang bisa dijelajahi. Tidak hanya memiliki pantai yang eksotis, Aceh juga memiliki ikon paling unik dan terkenal.

Tugu Nol Kilometer atau biasa disebut Monumen Kilometer Nol Indonesia bmerupakan penanda geografis yang unik di Indonesia. Hal ini berkaitan perannya sebagai simbol perekat Nusantara dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua. Tugu ini bukan saja menjadi penanda ujung terjauh bagian barat di Indonesia tetapi juga menjadi objek wisata sejarah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tidak sedikit wisatawan yang datang ke Aceh untuk singgah ke tempat wisata ini. Salah satunya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno. Sandiaga ingin Kilometer Nol Indonesia untuk menghidupkan kembali pariwisata di Aceh. Ada beberapa rencana yang digagasnya agar hal ini dapat tercapai.

“Secara resmi menginjakkan kaki di kilometer nol dan mendapat sertifikat, tanda, sebagai bukti kunjungan ke 240 ribu dari sisi wilayah terbarat di Indonesia. Ada rasa bangga akhirnya menginjakkan kaki di sini,” kata Sandiaga Uno, Minggu, (2/5/2021).

Menparekraf berencana akan menghidupkan kembali Bandara Sabang yang tidak beroperasi dalam beberapa tahun terakhir ini. Dia akan berkoordinasi agar rute Kualanamu-Sabang bisa dibuka kembali guna membangkitkan pariwisata dan ekonomi kreatif kita, membuka lapangan kerja seluas-luasnya.

Lantas, seperti apa keunikan yang ada di Kilometer Nol Indonesia? Berikut ulasan rangkumannya pada Senin (3/5/2021).

Sejarah

Tugu kilometer nol Indonesia terletak di Pulau Sabang, Aceh. Pulau tersebut dikenal memiliki pemandangan alam yang sangat memesona. Memiliki keistimewaan yaitu digunakan sebagai tanda batas wilayah Indonesia bagian paling barat.

Dahulu sejarah Tugu Kilometer nol Sabang merupakan kawasan yang tak terawat. Tempat tersebut dipenuhi dengan hewan monyet. Hewan tersebut selalu menyambut para wisatawan yang datang, meminta makanan kepada pengunjung, sehingga para pengunjung tugu memberikan camilan untuk mereka, hal ini membuat kawasan Tugu tampak kotor.

Melihat keadaan tempat wisata sejarah Tugu Kilometer nol Sabang yang kurang terawat, pihak pemerintah melakukan gerakan renovasi terhadap bangunan tersebut. Proses melakukan renovasi dilakukan cukup lama karena pihak pengelola wisata sekalian memperbaiki kerusakan yang berada di sekitar tugu.

Selesai melakukan renovasi bangunan Tugu Kilometer diresmikan pada 9 September 1997 oleh presiden Try Sutrisno. Try Sutrisno meresmikan telah dibukanya Tugu Kilometer nol dengan menandatangani pilar yang berbentuk bulat. Letak pilar tersebut berada di lantai pertama bangunan tugu.

Lokasi

Lokasi tugu ini terletak di areal Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya, Sabang. Letaknya di sebelah barat kota Sabang sekitar 29 kilometer atau memakan waktu sekitar 40 menit berkendara.

Kawasan wisata

Pesona keindahan wisata sejarah Tugu Kilometer Nol Sabang terletak pada bangunan tugu yang begitu indah dan kokoh. Pesona keindahan tugu tampaknya mampu menarik wisatawan untuk menyusuri ke dalam bangunan tua tersebut.

Kemegahan dengan desain bangunan arsitektur nan indah membuat Tugu Kilometer Nol membuat wisatawan lokal dan mancanegara tertarik untuk mendatanginya. Para wisatawan ingin melihat dari dekat dan menyelami keindahan tugu yang bersejarah ini.

Keunikan

Tugu kilometer nol adalah bangunan bercat putih dengan tinggi sekitar 43,6 meter di atas permukaan laut. Bagian tugu dicat putih dan bagian atas lingkaran menyempit seperti mata bor. Puncak tugu ini terdapat patung burung Garuda menggenggam angka nol dilengkapi prasasti marmer hitam yang menunjukkan posisi geografisnya. Rencong yang merupakan senjata khas Aceh juga terdapat di tugu sebagai simbol perjuangan rakyat Aceh dalam memerdekakan Indonesia.

Di lantai pertama monumen terdapat pilar bulat dan terdapat prasasti peresmian tugu yang ditandatangani Wakil Presiden, Try Sutrisno, pada 9 September 1997. Di lantai ini pun terdapat beton bersegi empat di mana tertempel dua prasasti yaitu prasasti pertama ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi BJ. Habibie 24 September 1997. Dalam prasasti itu bertuliskan penetapan posisi geografis Indonesia diukur pakar BPP Teknologi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS).

Rujak Kilometer Nol Indonesia

Berada di sini juga terdapat kuliner yang wajib dicicipi, yaitu rujak. Buah-buahan yang disajikan sama dengan rujak biasanya yaitu jambu, dondong, mangga, dan bengkoang tapi yang membedakannya terletak pada bumbunya. Bumbu rujak kilometer nol ini berbeda, maka rasanya pun juga berbeda.

Buah Rumbia ditambahkan dalam sambal rujak digerus halus dengan gula aren dan cabainya. Rasa sambalnya sedikit sepat tapi tetap saja terasa nikmat apalagi saat buah-buahan dicocol dengan sambal.

Akan lebih nikmat jika menikmati rujak ini di warung makannya, karena wisatawan dapat menikmati hembusan pantai dengan pemandangan monyet-monyet yang sering bermunculan di pepohonan.

Mi Jalak

Mi Jalak memiliki rasa yang  unik, menambah citarasanya yang lezat. Mi Jalak memiliki warna kekuningan dengan kuah bening yang biasanya dicampur dengan taoge, daun bawang dan ditaburi daging ikan yang dipotong dadu.

Mi ini biasa dijual di Toko Pulau Baru di Jalan Pedanganan di Kota Sabang. Nama Mi Jalak sendiri diberi nama Jalak karena nama pembuat pertamanya bernama Pak Jalak.Meskipun isian mi ini sederhana namun rasa mi ini sangat nikmat.

Warung ini buka pukul 08.00-12.00 dan kembali buka pada pukul 16.30 – 22.00. Saat akhir pekan warung ini sangat ramai. Jadi, datanglah lebih awal jika tidak ingin mengantre lama.

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut