Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Sejarah Shalat 50 Waktu jadi 5 Waktu dalam Isra Miraj, Berawal Protes Nabi Musa?
Advertisement . Scroll to see content

4 Tradisi Unik Perayaan Maulid Nabi, Prosesi Panjang Jimat Jadi Daya Tarik Turis

Rabu, 20 Oktober 2021 - 15:09:00 WIB
4 Tradisi Unik Perayaan Maulid Nabi, Prosesi Panjang Jimat Jadi Daya Tarik Turis
Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (Foto: Instagram@gandhipurwanto)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Ada banyak cara masyarakat untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi 1443 Hijriah diperingati pada Selasa 19 Oktober 2021.

Momentum peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW atau yang biasa disebut Maulid Nabi diperingati pada 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah. Tidak hanya jadi perayaan agama saja, tetapi telah menjadi pesta budaya masyarakat.

Hal ini sering di Indonesia khususnya Pulau Jawa, Islam masuk dan menyatu dengan budaya masyarakat setempat sehingga melahirkan berbagai tradisi unik dalam merayakan Maulid Nabi.

Bahkan, perayaan tersebut juga tak lagi sekadar menjadi ritual keagamaan dan budaya, namun telah menjadi objek pariwisata yang dikenal oleh masyarakat luas. Berikut ini MNC Portal Indonesia sajikan ulasan mengenai tradisi unik merayakan Maulid Nabi yang ada di Pulau Jawa!

1. Grebeg Maulud / Sekaten (Yogya - Solo)

Tradisi unik pertama yang ada di Pulau Jawa dan sudah sangat terkenal hingga berbagai penjuru wilayah Tanah Air tentu saja adalah prosesi Grebeg Maulud atau yang disebut juga Sekaten. 

Prosesi ini dilaksanakan selama seminggu penuh yaitu sejak 5 Rabiul Awal, ditandai dengan berbagai kegiatan seperti permainan gamelan di Masjid Keraton diikuti dengan rangkaian ceramah hingga pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad. 

Puncaknya adalah diadakannya Grebeg Maulud yakni para pemuka keraton berjalan beriringan diikuti gunungan berupa makanan untuk dibagikan kepada masyarakat. Kegiatan ini juga kini diiringi dengan adanya pasar malam yang diadakan di alun-alun keraton, menjadikan Sekaten benar-benar hajatan rakyat.

2. Kirab Ampyang (Kudus)

Sedikit bergeser dari wilayah Yogyakarta dan Solo, warga Kudus juga memiliki tradisi unik dalam merayakan Maulid Nabi yang juga sudah cukup populer di kalangan masyarakat umum yakni Kirab Ampyang. 

Serupa tapi tak sama dengan Grebeg Maulud, Kirab Ampyang adalah prosesi arak-arakan makanan dilakukan berkeliling dari Desa Loram Kulon menuju Masjid Wali At Taqwa, Kudus, lantas dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk ‘ngalap berkah’. 

Perbedaannya adalah prosesi Kirab Ampyang diiringi juga oleh pameran kesenian, di mana para peserta biasanya menampilkan visualisasi dari tokoh-tokoh agama dan sejarah di Kota Kudus. 

3. Ngalungsur Pusaka

Bagi masyarakat Sunda dan sebagian Betawi, momentum Maulid Nabi dirayakan dengan cara membersihkan benda-benda pusaka (ngalungsur pusaka) peninggalan Sunan Rohmat Suci, sosok yang dikenal juga dengan nama Raden Kian Santang.  

Upacara ritual tersebut biasanya dilakukan oleh warga di Kabupaten Garut, Jawa Barat hingga Banten. Benda pusaka tersebut dibersihkan dan dicuci dengan air berbunga dan digosok dengan minyak wangi agar tidak berkarat. 

Selain sebagai upaya menghormati warisan tokoh agama Islam terkemuka di tanah Sunda, prosesi tersebut juga sebagai upaya untuk melestarikan dan mensosialisasikan keberadaan benda-benda peninggalan Sunan Rohmat Suci. 

4. Panjang Jimat

Selain Sekaten, Panjang Jimat menjadi salah satu tradisi unik masyarakat di Pulau Jawa dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW yang paling terkenal. Bagaimana tidak, banyak dari wisatawan yang berbondong-bondong datang ke Keraton Cirebon hanya untuk menyaksikan prosesinya. 

Panjang Jimat merupakan puncak acara peringatan Maulid Nabi di Cirebon. Prosesi upacaranya digelar pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB, yang ditandai dengan 9 kali bunyi lonceng Gajah Mungkur yang berada di gerbang depan keraton. Suara lonceng tersebut merupakan tanda dibukanya upacara panjang jimat.

Prosesi Panjang Jimat berisikan arak-arakan kirab yang membawa berbagai benda pusaka milik keraton dari Bangsal Prabayaksa menuju Masjid Agung Kanoman, Cirebon. Prosesi itu dipimpin langsung oleh Pangeran Patih Keraton Kanoman dan telah menjadi parade budaya tersendiri. 

Editor: Vien Dimyati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut