Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BNI Cetak Laba Bersih Rp20 Triliun di 2025, Kredit Tumbuh 15,9%
Advertisement . Scroll to see content

Gaya Belanja Tak Terkontrol, Picu Gagal Bayar Kredit di Kalangan Generasi Milenial

Jumat, 30 Mei 2025 - 19:46:00 WIB
Gaya Belanja Tak Terkontrol, Picu Gagal Bayar Kredit di Kalangan Generasi Milenial
Milenial rentan gagal bayar akibat kebiasaan belanja impulsif dan rendahnya literasi keuangan. (Foto: Ilustrasi)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kebiasaan belanja yang tidak terkontrol menjadi salah satu pemicu utama gagal bayar kredit di kalangan milenial Indonesia. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, kelompok usia muda semakin rentan terjebak dalam masalah keuangan akibat kurangnya pemahaman dalam mengelola utang.

Tren konsumtif yang melekat pada gaya hidup milenial kerap tidak seimbang dengan manajemen finansial yang bijak. Banyak di antara mereka memanfaatkan fasilitas kredit tanpa mempertimbangkan kemampuan melunasi tagihan. Ini mengarah pada tingginya angka gagal bayar kredit, yang berdampak pada reputasi keuangan jangka panjang.

Data internal dari salah satu penyedia kredit menunjukkan kelompok usia 21–30 tahun merupakan pengguna dengan tingkat gagal bayar tertinggi dibanding kelompok usia lain. Risiko gagal bayar cenderung menurun pada kelompok usia yang lebih dewasa, menunjukkan pemahaman dan kontrol finansial memainkan peran penting dalam menghindari kredit macet.

Tingginya gagal bayar pada milenial bukan hanya soal usia, tapi juga minimnya literasi keuangan sejak dini. Tanpa edukasi memadai tentang sistem kredit, banyak pengguna muda terjebak dalam utang jangka panjang yang sulit dilunasi. Kondisi ini menuntut perubahan kebiasaan serta pendekatan baru dalam pemberian akses kredit.

Gagal bayar kredit tidak hanya berdampak pada catatan keuangan pribadi, tetapi juga berpengaruh pada akses masa depan terhadap layanan finansial. Generasi muda harus lebih selektif dan sadar dalam memanfaatkan kredit agar tidak terjebak dalam siklus utang yang terus membesar.

Salah satu pendekatan yang kini mulai diterapkan oleh beberapa penyedia kredit adalah sistem bertahap yang disesuaikan dengan perilaku pengguna. Dengan fitur seperti kenaikan limit berdasarkan kedisiplinan pembayaran dan pengembalian biaya administrasi bagi pengguna yang melunasi tagihan tepat waktu, risiko gagal bayar dapat ditekan secara signifikan.

“Kami percaya, akses kredit yang sehat harus dimulai dari pemahaman yang realistis terhadap kondisi keuangan pengguna. Banyak orang sebenarnya ingin tertib secara finansial, tapi sistem yang rumit dan tidak berpihak justru membuat mereka terjebak,” ujar Head of Operations Honest Card, Panji Puntadewa dalam keterangan persnya dilansir, Jumat (30/5/2025).

Pendekatan yang fokus pada kontrol mandiri dan edukasi pengguna terbukti menurunkan angka keterlambatan pembayaran hingga 24 persen sejak fitur-fitur adaptif diluncurkan. Bahkan, 30 persen pengguna rutin melunasi seluruh tagihan bulanannya secara penuh, menandakan adanya perubahan perilaku positif dalam penggunaan kredit.

Kredit seharusnya dimanfaatkan sebagai alat membangun profil finansial yang sehat, bukan sekadar ajang pamer atau pemuas hasrat konsumtif. Sayangnya, banyak milenial yang tergoda mengejar gaya hidup mewah tanpa menyadari konsekuensi finansial jangka panjangnya.

Kebiasaan belanja impulsif ditambah kemudahan akses kredit menjadi kombinasi yang memicu gagal bayar kredit secara masif. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berdampak pada sulitnya akses terhadap layanan keuangan formal seperti pinjaman, KPR, atau pembiayaan kendaraan.

Penting bagi generasi muda untuk membentuk mindset baru yang lebih sadar dan bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas kredit. Literasi keuangan harus menjadi bagian dari gaya hidup, bukan sekadar pilihan opsional.

"Kampanye edukatif seperti JujurAja menjadi langkah strategis dalam mendorong budaya finansial yang lebih sehat di kalangan milenial. Mendorong keterbukaan terhadap kondisi keuangan pribadi dan pentingnya manajemen kredit, kampanye ini memperkuat semangat Anti-Galbay sebagai fondasi keuangan yang tangguh," kata Panji.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut