Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : MNC Bank Gandeng MNC Sekuritas Dorong Literasi Keuangan Gen Z lewat Solusi Perbankan Digital
Advertisement . Scroll to see content

Banyak Perempuan Sulit Kelola Keuangan, Risiko Penipuan Digital Meningkat!

Senin, 20 Juli 2026 - 14:35:00 WIB
Banyak Perempuan Sulit Kelola Keuangan, Risiko Penipuan Digital Meningkat!
Ilustrasi ibu rumah tangga kesulitan mengelola keuangan. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.idPerempuan Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mengelola keuangan, terutama bagi mereka yang berasal dari kelompok rentan seperti ibu tunggal, pekerja sektor informal, hingga perempuan berpenghasilan rendah.

Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko pengambilan keputusan finansial yang kurang tepat, termasuk menjadi korban penipuan digital. Kenapa demikian?

Persoalan tersebut muncul di tengah masih lebarnya kesenjangan antara tingkat penggunaan layanan keuangan dengan pemahaman masyarakat terhadap produk dan jasa keuangan. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan Indonesia baru mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan telah menyentuh 80,51 persen.

Peserta Workshop Literasi Keuangan Keluarga antusias. (Foto: Istimewa)
Peserta Workshop Literasi Keuangan Keluarga antusias. (Foto: Istimewa)

Artinya, masih banyak masyarakat yang sudah memanfaatkan layanan keuangan, mulai dari rekening bank hingga dompet digital, namun belum memiliki pengetahuan yang memadai dalam mengelola keuangan maupun memahami risiko dari produk keuangan yang digunakan. Kondisi ini membuat masyarakat lebih rentan terhadap praktik penipuan keuangan digital yang belakangan semakin marak.

Tantangan tersebut menjadi semakin penting mengingat perempuan memiliki peran sentral dalam mengatur keuangan rumah tangga sekaligus menopang perekonomian keluarga. Bahkan, data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan sekitar 64 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia merupakan perempuan.

Meski begitu, masih banyak perempuan yang menghadapi kerentanan ekonomi akibat terbatasnya akses terhadap pendidikan dan pelatihan keuangan. Kelompok tersebut meliputi ibu tunggal, pekerja sektor informal, perempuan yang putus sekolah, hingga perempuan dengan pendapatan rendah.

Presiden Direktur PT AXA Financial Indonesia, Niharika Yadav, mengatakan kesenjangan antara akses terhadap layanan keuangan dan tingkat pemahaman masyarakat menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan masih menjadi kebutuhan mendesak.

"Kesenjangan antara akses dan pemahaman keuangan menunjukkan bahwa upaya meningkatkan literasi keuangan masih sangat relevan," kata Niharika dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).

Dia menambahkan, "Kami percaya bahwa ketika perempuan memiliki pengetahuan, kepercayaan diri, dan kesempatan untuk berkembang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh diri mereka sendiri, tetapi juga oleh keluarga dan komunitas di sekitarnya."

Menurut dia, penguatan literasi keuangan dapat menjadi bekal penting bagi perempuan untuk membangun ketahanan finansial sekaligus membuka peluang meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.

Sebagai salah satu upaya menjawab tantangan tersebut, PT AXA Financial Indonesia bersama Liberty Society Foundation menggelar program pemberdayaan bagi 100 perempuan dari berbagai komunitas di Jakarta. Program yang merupakan bagian dari inisiatif 'Aman Untuk Semua' itu memadukan pelatihan literasi keuangan dengan pengembangan keterampilan berbasis ekonomi sirkular.

Selama tiga sesi pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan anggaran rumah tangga, strategi menabung, penyusunan dana darurat, hingga perencanaan keuangan jangka panjang. Mereka juga dibekali edukasi mengenai pentingnya perlindungan finansial dan cara mengenali modus penipuan keuangan digital yang kian beragam.

Selain itu, peserta memperoleh pelatihan keterampilan ekonomi sirkular, seperti mengolah limbah tekstil menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Keterampilan tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha baru maupun menjadi tambahan sumber pendapatan bagi perempuan.

CEO Liberty Society Foundation, Tamara Gondo, menilai literasi keuangan dan ekonomi sirkular saling berkaitan dalam membangun kemandirian perempuan.

"Bagi kami, literasi keuangan dan ekonomi sirkular bukan dua program yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya adalah satu jalan yang sama menuju kemandirian," ujar Tamara.

"Ibu tunggal yang belajar menyusun anggaran rumah tangga dan perempuan yang mengubah limbah tekstil menjadi produk bernilai jual sama-sama sedang membangun hal yang sama, yaitu kendali atas hidup mereka sendiri," tambahnya.

Dia berharap kolaborasi berbagai pihak dalam memperluas akses pendidikan keuangan dan pengembangan keterampilan dapat memperkuat ketahanan ekonomi perempuan Indonesia sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi kelompok yang selama ini masih rentan secara finansial.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut