Unik, Ilmuwan Gunakan Alkohol untuk Mengukur Medan Magnet
CALIFORNIA, iNews.id- Para ilmuwan rupanya menemukan cara lain untuk memanfaatkan alkohol. Ya, para ilmuwan telah menemukan cara menggunakan alkohol untuk mengukur medan magnet di luar angkasa dan belajar banyak tentang bagaimana bentuk bintang yang sangat besar.
Mereka mengandalkan alkohol dalam bentuknya yang paling sederhana, yakni metanol. Medan magnet sangat memengaruhi molekul metanol yang mengambang di luar angkasa di sekitar mereka.
Dengan mempelajari metanol, maka bisa mengungkapkan informasi tentang medan magnet tak terlihat. Meskipun hubungan ini sebelumnya telah dieksplorasi, tim ilmuwan di balik penelitian baru menciptakan sebuah model, bagaimana metanol berinteraksi dengan medan magnet.
Di daerah padat dan pusat bintang besar terbentuk, molekul metanol menghasilkan radiasi gelombang mikro yang terang bergerak berdasarkan tata letak medan magnet. Ini memberi ilmuwan cara mengukur kekuatan dan desain lapangan.
Metanol dan molekul lainnya juga memberi sinyal pada ilmuwan mengenai suhu, tekanan, dan faktor lainnya di lokasi pembentukan bintang.
"Kami mengembangkan model bagaimana metanol berperilaku di medan magnet, mulai dari prinsip mekanika kuantum," kata peneliti Boy Lankhaar dalam sebuah pernyataan dari Chalmers University of Technology.
Model astrokimia bisa diterapkan pada pengamatan para astronom untuk membantu mereka memahami di berbagai bagian alam semesta.
"Dengan pemahaman baru kita tentang bagaimana metanol dipengaruhi oleh medan magnet, akhirnya kita bisa mulai menafsirkan apa yang kita lihat," kata peneliti Wouter Vlemmings dalam sebuah pernyataan yang dikutip iNews.id dari IBTimes, Kamis (1/2/2018).
Informasi ini bisa mengungkapkan beberapa rahasia formasi bintang paling masif. Pada gilirannya, ini memengaruhi bagaimana bentuk planet di sistem tata surya tersebut.
"Ketika bintang terberat dan terbesar lahir, kita tahu medan magnet memainkan peran penting," kata Lankhaar.
"Tapi, bagaimana medan magnet memengaruhi proses ini menjadi bahan perdebatan di kalangan peneliti. Sekarang, berkat perhitungan baru, akhirnya kami tahu bagaimana mengukurnya dengan metanol," katanya.
Editor: Dini Listiyani