Canggih! Tempat Sampah Ini Berbasis AI, Namanya Srikandi
JAKARTA, iNews.id — Inovasi teknologi kini merambah ke pemilahan sampah. Jika selama ini berbagai sistem pengelolaan sampah dinilai kuat secara konsep tetapi sulit diterapkan secara konsisten, pendekatan berbeda justru datang dari sisi pengalaman pengguna.
Lewat pengembangan tempat sampah berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Srikandi, Nusabin mencoba menggeser paradigma tersebut. Alih-alih membebani pengguna dengan edukasi berulang dan instruksi teknis, sistem ini dirancang untuk bekerja otomatis sejak sampah pertama kali dimasukkan.
Keunggulan utama AI Srikandi terletak pada kemampuannya mengenali dan mengklasifikasikan sampah anorganik secara otomatis. Setelah sampah dimasukkan, sistem akan memindai dan mengidentifikasi jenis material hingga merek produk tanpa memerlukan tombol tambahan atau pengaturan manual dari pengguna.
Seluruh proses berlangsung di balik layar. Tidak ada mekanisme rumit, tidak ada pemilahan manual. Pengguna cukup membuang sampah seperti biasa, sementara sistem melakukan analisis dan klasifikasi secara mandiri.

Pendekatan ini memanfaatkan kombinasi teknologi pengenalan visual, pemrosesan data, dan sistem klasifikasi berbasis AI yang terintegrasi dengan dashboard digital. Setiap aktivitas tercatat secara real time, menghasilkan basis data yang dapat diakses untuk memantau pola timbulan sampah di suatu lokasi.
Bagi Nusabin, penyederhanaan interaksi menjadi prinsip utama. Logikanya sederhana, semakin mudah sistem digunakan, semakin besar peluang orang untuk konsisten melakukannya.
Implementasi AI Srikandi telah dilakukan di sejumlah ruang komersial di Jakarta, seperti Kopi Kamu Wijaya dan Kopi Kina Cikini. Di lokasi-lokasi ini, sistem digunakan langsung oleh pengunjung dengan latar belakang berbeda.
Dalam operasional harian, pengalaman membuang sampah menjadi lebih praktis. Pengunjung tidak perlu lagi memikirkan apakah sampah harus masuk ke kategori plastik, kertas, atau lainnya. Proses klasifikasi berlangsung otomatis, sehingga kebingungan yang biasanya muncul dalam sistem pemilahan konvensional dapat diminimalkan.
Respons positif dari pengguna menunjukkan bahwa kemudahan interaksi menjadi faktor penting dalam penerimaan teknologi di ruang publik. Teknologi tidak terasa 'menggurui', melainkan bekerja diam-diam mendukung perubahan perilaku.
Pengujian tidak berhenti di ruang komersial. Pada Desember 2025, AI Srikandi diterapkan dalam program #MadrasahMulaiMemilah di MAN Insan Cendekia Serpong. Lingkungan pendidikan dengan ratusan pengguna aktif setiap hari menjadi ruang uji yang dinamis.
Di madrasah tersebut, teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat pengelolaan sampah, tetapi juga sebagai media pembelajaran praktis. Siswa terbiasa dengan proses pemilahan otomatis sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari, tanpa perlu diawasi secara ketat.
Hasil uji coba menunjukkan konsistensi performa sistem dalam mengenali dan memilah sampah secara otomatis. Tidak diperlukan intervensi manual yang kompleks dari pengelola, sehingga efisiensi operasional tetap terjaga.
Salah satu aspek paling strategis dari AI Srikandi adalah kemampuannya merekam seluruh aktivitas pemilahan dalam sistem berbasis data. Informasi ini dapat dimanfaatkan untuk menganalisis jenis sampah dominan, volume harian, hingga pola konsumsi di suatu lokasi.
Dengan data tersebut, pengelola ruang publik atau institusi dapat merancang strategi pengurangan sampah yang lebih terukur. Pendekatan ini menempatkan teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan instrumen pengambilan keputusan berbasis data.

AI Srikandi menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu harus dimulai dari kampanye besar atau instruksi berulang. Kadang, perubahan tumbuh dari sistem yang dirancang intuitif dan konsisten bekerja di belakang layar.
Melalui inisiatif 'Srikandi Peduli Sampah', Nusabin membuka peluang kolaborasi lintas sektor untuk memperluas implementasi sistem pemilahan otomatis ini di berbagai ruang publik.
Editor: Muhammad Sukardi