Bikin Robot Bisa Pakai Barang Bekas, Kuncinya Harus Ada Dinamo
JAKARTA, iNews.id - Robotik dan coding dua hal yang tak bisa dipisahkan. Sebuah robot dapat melakukan sesuatu karena perintah yang didapat dari coding.
Namun robotik dan coding sering kali dianggap sebagai dunia untuk kalangan atas padahal ini bisa dilakukan siapa pun. Pengajar khusus robotik dan coding di Ruang Guru Riko mengatakan saat ini dua hal tersebut sudah bisa dipelajari semua kalangan.
Menariknya, untuk membuat sebuah robot sederhana tak memerlukan komputer untuk membuat coding dan biaya tidak besar.
"Sebenarnya untuk pembelajaran coding sendiri, kita bisa belajar tanpa komputer. Tapi itu khusus untuk anak-anak usia dini, karena coding itu kan pada dasarnya perintah. Saya juga ngajar di usia 5-6 tahun, kita bikin games berbasis perintah," kata Riko saat ditemui di gedung iNews Tower, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2024).
Riko mengungkapkan saat ini untuk mempelajari coding bisa dilakukan menggunakan smartphone, yang hampir dimiliki oleh seluruh kalangan masyarakat di Indonesia. Menurutnya, itu cukup untuk belajar menciptakan suatu program perintah tanpa menggunakan komputer.
"Jadi memang gak melulu harus menggunakan komputer untuk menguasai coding. Bahkan, kita bisa belajar menggunakan Scratch Junior, jadi ini suatu pemograman melalui warna dan bisa diakses melalui handphone, bisa download di playstore. Kalau sekarang kayaknya seluruh kalangan semua memiliki handphone," tuturnya.
Sementara untuk membuat robot, Riko menyampaikan keterampilan dan imajinasi tinggi menjadi kunci. Bahkan, sebuah robot sederhana bisa dibuat tanpa memerlukan komputer dan dibuat dari barang-barang bekas yang ada di sekitar.
"Siapa pun bisa bikin robot. Jadi pembelajaran robot itu gak melulu soal sensor, mungkin alat-alat yang mahal dan sebagainya. Jadi kita bisa menggunakan barang-barang bekas. Kuncinya cuma satu, kita cuma harus ada aktuator atau dinamo. Zaman dulu kan pasti tahu dinamo, dan paling banyak ditemukan di toko-toko," katanya.
Di Ruang Guru, Riko menjelaskan mereka yang belajar di kelas khusus robotik dan coding akan mendapatkan kurikulum Abad ke-21. Di dalamnya, anak-anak usia dini akan diajarkan mengenai masa depan dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang semakin berkembang.
"Saya ngajar di robotik dan koding, dan itu memang fokus kita di situ. Jadi Abad ke-21 itu kurikulum yang kita pakai untuk pembelajaran abad ke-21, ada creativity, critical thinking, colaboration, dan communication," katanya.
Untuk mempelajari robotik dan coding, Riko menjelaskan usia ideal adalah 7 tahun atau saat masih berada di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Tapi, anak-anak usia balita juga bisa mempelajari dasar-dasar mengenai coding agar lebih paham saat mempelajari teknisnya.
"Kalau untuk robotik bisa mulai belajar dari usia dasar, kalau sekarang 7 tahun sampai 15 tahun. Kalau untuk usia 5-6 tahun untuk dasar-dasarnya, untuk membuat pondasinya. Untuk teknisnya kita mulai dari usia 7 tahun," tuturnya.
Untuk kelas robotik dan coding, Riko mengatakan biaya yang dikeluarkan cukup terjangkau. Pasalnya, dalam kelas tersebut akan diajari mulai dari dasar hingga mahir dalam membuat robot dan coding.
"Kalau untuk biaya, kita itu ada 12 kali pertemuan untuk satu peserta. Mungkin kisaran mulai dari Rp500 ribu untuk 12 sesi. Kita juga ada kelas online menggunakan Zoom. Kita juga ada kelas offline, itu berada di daerah Bintaro. Kita juga bekerja sama dengan brand akademi, jadi ada beberapa kelas robotik di Jakarta," katanya.
Editor: Dini Listiyani