Angin Kencang Rancaekek Diklaim Tornado Pertama di Indonesia, BMKG Angkat Bicara
JAKARTA, iNews.id - Angin kencang yang menerpa Rancaekek, Kabupaten Bandung menjadi perhatian banyak pihak. Peneliti BRIN menyebut fenomena itu sebagai tornado, tapi bagaimana dengan BMKG?
Kepala BMKG Bandung Teguh Rahayu berpendapat, angin kencang Rancaekek adalah puting beliung bukan Tornado. Karena kecepatan angin berputar dan dampak kerusakan yang ditimbulkan tidak seperti Tornado.
Menurut Teguh, angin puting beliung adalah peristiwa alam di mana angin berputar dengan kecepatan 36,8 km per jam atau kurang 70 km/jam. Sedangkan Tornado seperti yang terjadi di AS lebih dari 70 km/jam.
"Kejadian kemarin sore, kecepatan angin tercatat di AAWS Jatinangor 36,8 kilometer per jam. Kalau tornado pasti dampaknya lebih dari 10 kilometer. Sedangkan kemarin luas area terdampak 3 sampai 5 kilometer," tuturnya dalam keterangan resmi.
Sebelumnya peneliti BRIN Erma Yulihastin menyebutkan angin kencang Rancaekek sebagai tornado pertama di Indonesia. Dia menilai karakteristik angin ribut Rancaekek sama dengan tornado yang terjadi di belahan Bumi utara, Amerika Serikat.
"Struktur tornado Rancaekek, Indonesia, dibandingkan dengan tornado yang biasa terjadi di belahan bumi utara, Amerika Serikat. Memiliki kemiripan 99,99% alias mirip bingits!" kata Erma dalam sebuah cuitan di media sosial X, dikutip pada Kamis (22/2/2024).
Menurut Erma, tornado ini berbeda dengan puting beliung, di mana tornado punya skala kekuatan angin lebih tinggi dan radius lebih luas dengan minimal kecepatan angin mencapai 70 km/jam. Sementara puting beliung hanya 56 km/jam.
"Selain itu juga durasi. Dalam kasus puting beliung yg biasa terjadi di Indonesia, hanya sekitar 5-10 menit itu pun sudah sangat lama. Hanya ada satu kasus yang tidak biasa ketika puting beliung terjadi dalam durasi 20 menit di Cimenyan pada 2021," tuturnya.
Untuk diketahui, tornado yang muncul di Rancaekek berwujud pusaran angin berwarna gelap. Kemunculannya menyebabkan kepanikan bagi warga mengingat tidak sedikit bangunan yang rusak dan dalam beberapa video terlihat bagaimana puing-puingnya terangkat.
Editor: Dini Listiyani