Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Asosiasi Media Siber Ungkap Hampir Semua Jurnalis Gunakan AI sebagai Alat Bantu
Advertisement . Scroll to see content

Riset IJTI: AI Permudah Kerja, tapi Tak Bisa Gantikan Jurnalis

Sabtu, 28 Februari 2026 - 05:06:00 WIB
Riset IJTI: AI Permudah Kerja, tapi Tak Bisa Gantikan Jurnalis
Mayoritas jurnalis menilai Artificial Intelligence (AI) memudahkan pekerjaan mereka, namun sebagian besar tidak sepakat AI dapat menggantikan peran jurnalis. (Foto:AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mengungkapkan hasil riset “Persepsi Jurnalis Melihat Perkembangan AI Saat Ini”. Mayoritas jurnalis menilai Artificial Intelligence (AI) memudahkan pekerjaan mereka. Namun, sebagian besar tidak sepakat AI dapat menggantikan peran jurnalis.

Wakil Ketua Umum IJTI, Wahyu Triyogo menjelaskan, riset dilakukan terhadap 53 jurnalis senior dan enam narasumber inti yang merupakan pemangku kebijakan di lima televisi nasional. Mayoritas responden menjawab “iya” saat ditanya apakah AI meningkatkan efisiensi dan efektivitas pekerjaan.

“Kita mencari tahu keyakinan jurnalis bahwa penggunaan AI meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja. Mayoritas responden menjawab, ya bahwa AI bisa membuat kerja jurnalis lebih efektif,” ujar Wahyu di Hall Dewan Pers, Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Namun, ketika ditanya apakah AI bisa menggantikan posisi jurnalis, mayoritas responden menjawab tidak. Peran jurnalis dalam mencari fakta di lapangan dan melakukan verifikasi tetap tidak tergantikan.

“Menurut Anda apakah AI bisa menggantikan kerja jurnalis? Nah ini yang menarik mayoritas menjawab tidak. Dan fakta memang sampai dengan hari ini untuk pekerjaan jurnalis terutama terkait mencari liputan di lapangan, melakukan proses liputan fakta di lapangan, itu hanya jurnalis yang bisa melakukan,” kata Wahyu.

Riset tersebut juga menyoroti tingkat keakuratan AI yang masih diragukan. Sebab itu, jurnalis dinilai tetap dibutuhkan untuk mengakurasi serta memverifikasi data yang diolah menggunakan teknologi tersebut.

“Tingkat keakuratan, nah ini optimisme kita lagi nih. AI belum tentu akurat bikin narasi-narasi yang disampaikan di media sosial atau di media-media digital. Tapi kalau jurnalis sudah bisa dijamin keakuratannya karena jurnalis memang punya kompetensi dan keahlian untuk melakukan proses verifikasi tentang informasi yang kita sampaikan,” ucap Wahyu.

Di sisi lain, tingkat kekhawatiran jurnalis terhadap potensi kehilangan pekerjaan akibat AI terbilang berimbang. Hasil survei menunjukkan komposisi jawaban berada di angka 50 banding 50 antara yang khawatir dan tidak khawatir.

“Berikutnya adalah tingkat kekhawatiran jurnalis bahwa AI bisa membuat mereka kehilangan pekerjaan. Ini 50-50, ada yang sangat khawatir, khawatir, kemudian netral, tidak khawatir, dan sangat tidak khawatir,” katanya.

Menurut Wahyu, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan fakta di lapangan. Saat ini, gelombang pemutusan hubungan kerja lebih banyak dipicu oleh stagnasi bisnis media, bukan karena disrupsi AI.

“Tapi fakta sekarang justru yang kena layoff bukan karena AI, tapi karena keberlanjutan media yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja,” ujar Wahyu.

Dia menegaskan, AI dalam praktik jurnalistik hanya berperan sebagai alat bantu. Keputusan akhir terkait akurasi dan kebenaran informasi tetap berada di tangan jurnalis.

“Jadi kesimpulannya AI adalah alat bantu, yang mengendalikan itu adalah manusia, yaitu jurnalisnya. Dan sekali lagi, tidak boleh menyerahkan sepenuhnya kepada AI, karena AI bisa salah data, bisa menarasikan, memanipulasi narasi atau membuat imajinasi terkait narasi-narasi yang kita minta,” kata Wahyu.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut