Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Mitos atau Fakta Radiasi Bluetooth TWS Sangat Berbahaya
Advertisement . Scroll to see content

Bukan Radiasi Bluetooth, Ini Bahaya Tersembunyi TWS yang Jarang Disadari

Sabtu, 18 Juli 2026 - 22:36:00 WIB
Bukan Radiasi Bluetooth, Ini Bahaya Tersembunyi TWS yang Jarang Disadari
sebagian anak muda mulai meninggalkan True Wireless Stereo (TWS) karena khawatir terhadap isu radiasi bluetooth. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Tren penggunaan earphone kabel kembali mencuat di kalangan Generasi Z (Gen Z). Selain dianggap memiliki nilai estetika retro, sebagian anak muda mulai meninggalkan True Wireless Stereo (TWS) karena khawatir terhadap isu radiasibluetooth.

Namun, kekhawatiran terhadap radiasi bluetooth ternyata belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Di sisi lain, ada ancaman lain dari perangkat TWS yang justru lebih nyata, yakni persoalan sampah elektronik atau electronic waste (e-waste).

Praktisi Bisnis Lingkungan sekaligus konten kreator, Bang Sap, mengungkapkan banyak orang beranggapan beralih ke earphone kabel merupakan pilihan yang lebih sehat karena terbebas dari paparan bluetooth. Padahal, menurut dia, masalah terbesar dari TWS bukan berasal dari gelombang yang dipancarkan, melainkan dari limbah perangkat tersebut ketika sudah tidak digunakan.

“Gen Z ramai-ramai buang TWS. Katanya takut radiasi. Padahal bukan radiasinya loh yang paling berbahaya. Kita merasa begitu balik ke earphone kabel kita udah ambil keputusan yang paling sehat dan lebih bertanggung jawab kan?,” kata Bang Sap, dikutip Sabtu (18/7/2026).

Dia menjelaskan, bluetooth menggunakan gelombang non-ionizing yang hingga kini belum terbukti dapat merusak sel maupun DNA manusia. Sejumlah lembaga kesehatan dunia juga belum menemukan bukti kuat bahwa penggunaan perangkat bluetooth seperti TWS menyebabkan gangguan kesehatan.

“Soal radiasinya, dokter dari IPB University menegaskan bluetooth memancarkan gelombang non-ionizing yang tidak terbukti merusak sel atau DNA. WHO dan CDC pun belum menemukan bukti kuat bahwa TWS berbahaya bagi kesehatan. Jadi ketakutan itu belum mendasar secara sains,” ujar dia.

Alih-alih radiasi, Bang Sap menyoroti desain TWS yang membuat perangkat tersebut sulit diperbaiki. Berbeda dengan perangkat elektronik lama yang komponennya masih bisa diganti, sebagian besar TWS dibuat dengan konstruksi tertutup dan menggunakan baterai kecil yang sulit diganti.

“TWS itu perangkat yang hampir seluruhnya dilem, enggak bisa dibuka. Dengan baterai lithium-ion mungil di dalamnya yang enggak bisa diganti. Begitu baterainya habis atau rusak, seluruh perangkatnya langsung dibuang, dan nyaris enggak ada fasilitas daur ulang yang siap menangkapnya,” katanya.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memperparah persoalan sampah elektronik di Indonesia. Data menunjukkan jumlah sampah elektronik nasional terus meningkat dan menjadi tantangan besar dalam pengelolaannya.

Pada 2023, sampah elektronik di Indonesia disebut telah mencapai sekitar 2,1 juta ton dan diperkirakan meningkat hingga 4,4 juta ton pada 2030 mendatang.

Bang Sap menilai limbah elektronik memiliki risiko yang lebih serius karena dapat mengandung bahan berbahaya seperti timbal dan merkuri. Zat tersebut bisa mencemari lingkungan apabila sampah elektronik dibakar atau dibuang sembarangan.

“Terbesar di Asia Tenggara dan cuma 17 persen yang dikelola dengan benar. Sisanya dibakar atau dibuang. Padahal sampah elektronik tadi mengandung timbal dan merkuri yang justru terbukti jauh lebih berbahaya dibanding gelombang bluetooth,” ujarnya.

Dia pun mengingatkan masyarakat agar tidak langsung membuang TWS yang sudah rusak ke tempat sampah biasa. Perangkat elektronik bekas sebaiknya dikumpulkan dan disalurkan melalui fasilitas pengelolaan e-waste.

“Jangan buang TWS lama ke tempat sampah biasa. Kumpulin satu wadah sekalian HP mati dan kabel rusak. Lalu antar ke dropbox e-waste terdekat. Dinas Lingkungan Hidup DKI udah nyediain titik di halte TransJakarta sampai stasiun KRL, bahkan ada jemput gratisnya,” katanya.

Bang Sap menegaskan, gaya hidup ramah lingkungan bukan berarti harus menjauhi teknologi, melainkan bertanggung jawab terhadap barang elektronik yang digunakan hingga akhir masa pakainya.

“Jadi yang bikin keputusanmu bener atau enggak bukan ketakutan radiasi yang belum pasti, tapi juga kemana perginya TWS yang enggak mau kamu tinggalin. Percuma takut radiasi kalau yang lama malah numpuk di laci terus dibuang sembarangan,” ujarnya.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut