Terancam Degradasi, Tottenham Hotspur Bisa Rugi Rp5,18 Triliun
LONDON, iNews.id – Tottenham Hotspur terancam degradasi dari Premier League. The Lilywhites berpotensi mengalami kerugian finansial hingga 261 juta poundsterling atau sekitar Rp5,18 triliun jika benar-benar turun ke Championship.
Situasi tersebut cukup mengejutkan. Tottenham termasuk salah satu dari enam klub dengan kekuatan finansial terbesar di Liga Inggris 2025-2026, sehingga ancaman turun kasta sebelumnya dianggap hampir mustahil terjadi.
Namun kondisi di klasemen menunjukkan risiko nyata. Dengan 10 pertandingan tersisa musim ini, Tottenham hanya unggul satu poin dari West Ham United yang berada di posisi ke-18, batas awal zona degradasi.
Performa Tottenham juga sedang tidak stabil. Rentetan hasil buruk membuat tim kesulitan menjauh dari zona merah dan memicu kekhawatiran di kalangan pengamat sepak bola Inggris.
Mikel Arteta Akui Sempat Malu usai Arsenal Bantai Tottenham, Kok Bisa?
Meski begitu, Spurs bukan satu-satunya tim yang berada dalam bahaya. Wolverhampton Wanderers dan Burnley diperkirakan akan menempati dua posisi terbawah klasemen. Selain Tottenham dan West Ham, Nottingham Forest serta Leeds United juga masih berjuang menghindari degradasi.
Rodri Terancam Sanksi usai Tuduh Wasit Tidak Netral saat Tottenham vs Man City
Tottenham mencatat pendapatan 690 juta poundsterling (Rp15,69 triliun) pada tahun lalu menurut laporan UEFA European Club Finance and Investment Landscape. Angka tersebut menempatkan Spurs di posisi kesembilan klub dengan pendapatan terbesar di Eropa.
Jika terdegradasi, pendapatan klub diprediksi turun drastis. Analisis BBC Sport memperkirakan Tottenham bisa kehilangan hingga 261 juta poundsterling (Rp5,18 triliun).
Igor Tudor Sepakat Jadi Pelatih Tottenham Hotspur Gantikan Thomas Frank yang Dipecat
Salah satu sumber pendapatan terbesar Tottenham berasal dari penjualan tiket pertandingan. Musim lalu, klub London Utara tersebut memperoleh sekitar 130 juta poundsterling (Rp2,96 triliun), tertinggi kelima di Eropa.
Saat ini Tottenham mematok harga tiket rata-rata 76 poundsterling atau sekitar Rp1,72 juta per pertandingan kandang. Harga tersebut sulit dipertahankan jika Spurs harus bermain di Championship menghadapi klub-klub seperti Lincoln City.
Tottenham Hotspur Pecat Thomas Frank usai Kalah 1-2 dari Newcastle
Pendapatan dari hak siar televisi juga akan merosot tajam. Tottenham tidak lagi menerima pembagian dana dari kontrak siaran Premier League yang bernilai sangat besar di pasar global.
Selain itu, pemasukan dari Liga Champions akan hilang sepenuhnya kecuali Tottenham mampu menjuarai kompetisi tersebut. Gelar juara otomatis memberi tiket ke Liga Champions musim berikutnya meski klub bermain di kasta kedua.
Sektor komersial juga terancam terdampak. Tottenham meraih 269 juta poundsterling dari sponsor dan kerja sama komersial pada tahun lalu, termasuk kontrak dengan Nike dan AIA yang bernilai sekitar 70 juta poundsterling per musim.
Pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire menilai degradasi akan menjadi pukulan besar bagi klub London Utara tersebut.
“Bagi klub dengan ambisi dan skala finansial seperti Tottenham, degradasi bukan sekadar kemunduran olahraga jangka pendek,” kata Kieran Maguire.
“Struktur ekonomi sepak bola Inggris membuat proses pemulihan bisa memakan waktu beberapa tahun,” tambahnya.
Walau gaji pemain dapat turun hingga 50 persen berkat klausul degradasi, pengeluaran lain tetap tinggi. Tottenham tetap harus menanggung biaya operasional besar seperti utilitas stadion, transportasi, pemasaran, dan administrasi.
Musim lalu Tottenham mencatat biaya operasional mencapai 260 juta poundsterling serta mempekerjakan 877 karyawan penuh waktu. Beban tersebut tetap harus ditanggung meski klub tidak lagi bermain di Premier League.
Editor: Abdul Haris