Shin Tae-yong Dihantui Catatan Kelam, 2 Mantan Pelatih Timnas Indonesia Melempem di Persija
JAKARTA, iNews.id – Shin Tae-yong resmi menambah daftar mantan pelatih Timnas Indonesia yang menangani Persija Jakarta. Namun juru taktik Korea Selatan itu dihantui catatan kelam.
Nama Shin kini sejajar dengan beberapa figur sebelumnya yang pernah memimpin Timnas Indonesia sebelum berlabuh ke Persija, klub besar dengan tekanan prestasi tinggi dan ekspektasi juara setiap musim.
Sebelum Shin, ada dua pelatih yang lebih dulu menempuh jalur serupa. Danurwindo memimpin Timnas Indonesia pada 1996 lalu menangani Persija pada 2008. Sementara Beny Dollo lebih dulu melatih Timnas pada 2000 dan baru menangani Persija mulai 2013.
Jejak keduanya menyisakan catatan pahit. Meski berpengalaman dan memahami karakter sepak bola nasional, hasil akhir bersama Persija belum berujung trofi juara.
Pola serupa juga terlihat dari dua nama lain dengan jalur berbeda. Ivan Kolev dan Rahmad Darmawan menangani Persija lebih dulu sebelum dipercaya membesut Timnas Indonesia. Hasilnya, gelar juara tetap tidak hadir di lemari Macan Kemayoran.
Empat pelatih dengan latar Timnas Indonesia, empat cerita tanpa akhir manis. Fakta ini membuat Shin langsung berada di bawah sorotan tajam publik Jakarta.
Menariknya, sejarah justru mencatat hasil berbeda bagi pelatih yang sukses di Persija lalu naik kelas ke Timnas Indonesia. Sinyo Aliandoe dan Endang Witarsa menorehkan prestasi bersama Persija pada era Perserikatan, sebelum akhirnya dipercaya PSSI menangani Timnas.
Kini Shin berdiri di persimpangan sejarah. Dia membawa reputasi internasional, pengalaman Piala Dunia, dan karakter disiplin tinggi, tetapi harus berhadapan dengan mitos yang belum pernah dipatahkan.
Tantangan makin berat karena peta kekuatan liga belum ramah. Persib Bandung datang sebagai rival utama dengan status juara Liga Indonesia tiga musim beruntun, ditopang stabilitas finansial dan komposisi skuad matang.
Situasi ini membuat tugas Shin tidak sekadar membangun tim, tetapi juga mematahkan tradisi kegagalan yang sudah melekat lebih dari satu dekade.
Potensi selalu ada, namun jalan menuju trofi bersama Persija menuntut konsistensi, kesabaran, dan kemampuan mengelola tekanan besar dari tribun hingga ruang ganti.
Apakah Shin Tae Yong mampu menulis ulang sejarah dan mematahkan kutukan? Jawabannya akan ditentukan oleh hasil, bukan reputasi semata.
Editor: Reynaldi Hermawan