Rio Ferdinand Sebut Striker Paling Perkasa di Dunia: Dia Seperti Gardu Listrik
MANCHESTER, iNews.id - Bek legendaris Manchester United (MU) Rio Ferdinand sebut striker paling perkasa di dunia. Sosok yang dimaksudnya adalah mantan mesin gol Inter Milan, Adriano.
Ferdinand jumpa Adriano di babak 16 Besar Liga Champions edisi 2008/2009. Pada leg pertama di Giuseppe Meazza, Inter dan MU bermain imbang 0-0.
Kemudian The Red Devils berhasil menang 2-0 pada leg kedua di Old Trafford dan berhak melaju ke babak berikutnya. Meski menang, Ferdinand mengaku kewalahan menjaga Adriano yang punya fisik prima.

Statistik 111 Gol Ronaldo di Portugal: 14 dari Penalti, Gawang Italia Masih Misteri
Mantan defender Timnas Inggris itu menyebut Adriano punya kekuatan yang begitu luar biasa. Bahkan Ferdinand tak ragu menjulukinya sebagai gardu listrik.
"Secara fisik saya akan memberitahu Anda siapa yang buas, Adriano! Kami bermain melawan Inter di Liga Champions. Dia tidak benar-benar berbuat banyak dalam permainan. Tetapi jika mendekatinya, Anda bisa merasakan kekuatannya," kata Ferdinand dikutip dari Metro, Kamis (2/9/2021).
Curahan Hati Greysia/Apriyani Usai Wajahnya Mejeng di Times Square
"Anda tahu jika berdiri di sebelah mobil dan seseorang mengendarainya (mobil itu) dan Anda berkata "oof", dia seperti itu. Jika dia berlari maka selesai sudah. Adriano seperti gardu listrik gila," ujarnya.
Detik-Detik Cristiano Ronaldo Ngamuk dan Pukul Wajah Pemain Irlandia
Adriano memang pesepak bola hebat di eranya. Dia dikenal memiliki tendangan geledek yang sulit dihentikan lawan.
Mesin gol berpostur gempal itu punya banyak jasa untuk Inter. Dia membawa I Nerazzurri meraih empat scudetto.
Lewati Rekor Ali Daei, Cristiano Ronaldo Selebrasi Bareng Petugas Keamanan
Di level timnas, Adriano mengantarkan Timnas Brasil juara Copa America 2004. Namun sinarnya meredup setelah ayahnya meninggal. Dia begitu frustrasi dan kecanduan alkohol hingga membuat kariernya hancur.

"Hanya saya yang tahu betapa saya menderita. Kematian ayah membuat saya sangat hampa. Saya sangat kesepian. Setelah kematiannya segalanya menjadi lebih buruk, karena saya mengisolasi diri saya sendiri," kata Adriano dikutip dari The Sun.
“Saya sendirian di Italia. Sedih dan tertekan. Lalu saya mulai minum. Saya hanya merasa senang saat saya minum. Saya melakukannya setiap malam. Saya minum semua yang bisa saya dapatkan: anggur, wiski, vodka, bir. Banyak bir. Saya tidak berhenti minum dan pada akhirnya saya harus meninggalkan Inter," ucapnya.
Editor: Reynaldi Hermawan