Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Hong Myung-bo Diteriaki dan Diusir Suporter di Bandara Incheon: Keluar dari Korea, Kembalikan 2 Miliar Won!
Advertisement . Scroll to see content

Prancis Favorit Juara Piala Dunia 2026, Deschamps Ingatkan Bahaya Besar

Selasa, 30 Juni 2026 - 15:58:00 WIB
Prancis Favorit Juara Piala Dunia 2026, Deschamps Ingatkan Bahaya Besar
Pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps (kiri), meminta pasukannya waspada jelang babak gugur Piala Dunia 2026. (Foto: FIFA)
Advertisement . Scroll to see content

NEW YORK, iNews.id –Timnas Prancis jadi favorit juara Piala Dunia 2026 setelah tampil sempurna di fase grup. Namun, pelatih Didier Deschamps mengingatkan Les Bleus tidak boleh terlena karena fase gugur tidak memberi kesempatan kedua.

Prancis datang ke babak 32 besar dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka menyapu bersih tiga pertandingan fase grup dengan kemenangan, pencapaian yang membuat status favorit juara semakin melekat pada skuad Les Bleus.

Di bawah komando Deschamps, Prancis memang terbiasa hidup dalam tekanan besar. Mereka menjuarai Piala Dunia 2018 dan kembali menembus final empat tahun kemudian. Pengalaman itu membuat Prancis dinilai sebagai salah satu tim paling siap menghadapi laga besar.

Namun, status unggulan tidak selalu menjadi keuntungan. Label favorit bisa berubah menjadi beban, terutama ketika tim memasuki fase gugur. Satu kesalahan kecil dapat langsung mengakhiri perjalanan sebuah negara di turnamen sebesar Piala Dunia.

Jelang pertandingan babak 32 besar melawan Swedia di New York New Jersey Stadium, suasana di kubu Prancis tetap terlihat tenang. Para pemain dan pelatih memahami ekspektasi besar yang mengarah kepada mereka, tetapi berusaha menjaga fokus.


Deschamps Tak Mau Prancis Terbuai

Deschamps mengakui Prancis sudah disebut sebagai salah satu favorit bahkan sebelum turnamen dimulai. Menurut dia, performa sempurna di tiga pertandingan fase grup tidak mengubah banyak hal, tetapi juga tidak memberi jaminan apa pun.

“Bahkan sebelum turnamen, kami sudah termasuk favorit. Berdasarkan cara kami bermain dalam tiga pertandingan, saya tidak berpikir pendapat itu berubah. Target kami adalah tetap percaya diri. Sekarang, kami masuk ke fase baru. Meski kami belum pernah meraih sembilan poin dari fase grup, itu tidak memberi kami keuntungan tambahan,” kata Deschamps, dikutip dari FIFA.com.

Pernyataan itu menjadi sinyal jelas. Deschamps ingin pemain Prancis memahami keberhasilan di fase grup tidak otomatis membuat jalan mereka lebih mudah. Babak gugur memiliki tekanan berbeda karena tidak ada ruang untuk memperbaiki kesalahan.

Gelandang Prancis, Adrien Rabiot, juga menyadari banyak tokoh sepak bola menyebut Les Bleus sebagai tim yang harus dikalahkan di Piala Dunia 2026. Namun, dia menegaskan skuad Prancis berusaha menutup telinga dari kebisingan di luar tim.

“Kami tentu mendengar dan melihat apa yang dikatakan tentang kami, tetapi kami berusaha tetap fokus dan mengabaikan kebisingan itu,” kata Rabiot.

“Saya pikir kami sudah melakukannya dengan baik sejauh ini karena kami sebenarnya bisa saja bersantai. Misalnya, saat melawan Irak dengan skor 3-0, banyak orang mengatakan akan ada jarak besar antara kedua tim, tetapi kenyataannya tidak seperti itu. Kami bekerja keras, mempersiapkan diri dengan matang untuk setiap pertandingan, dan menjalani semuanya dengan serius,” ujarnya.


Luka Lama Lawan Swiss Jadi Alarm

Deschamps punya banyak pengalaman untuk menjaga Prancis tetap waspada. Piala Dunia 2026 menjadi turnamen terakhirnya sebagai pelatih Timnas Prancis, sehingga setiap langkah Les Bleus terasa semakin penting.

Di era Deschamps, Prancis mencapai dua final Piala Dunia dan memenangi satu di antaranya. Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Kegagalan di EURO 2020 ketika disingkirkan Swiss pada babak 16 besar lewat adu penalti menjadi pengingat pahit.

Rabiot termasuk pemain yang tampil penuh dalam laga melawan Swiss tersebut. Bagi dia, pengalaman itu sangat berharga dan harus dibagikan kepada pemain lain agar Prancis tidak mengulang kesalahan serupa.

“Pengalaman seperti itu sangat berharga, dan penting bagi mereka yang ada di sana untuk membagikannya kepada anggota tim lainnya,” kata Rabiot.

“Seperti yang ditunjukkan pertandingan melawan Swiss, kami harus tetap waspada. Itu sebabnya saya mengatakan kami menjalani setiap pertandingan dengan sangat serius dan tidak boleh mengendur. Saya tidak mengatakan itu pasti terjadi saat melawan Swiss, tetapi mungkin ada momen-momen lengah dalam pertandingan itu, dan pada akhirnya kami membayar mahal,” ujarnya.

Fase gugur bukan wilayah asing bagi Deschamps dan para pemainnya. Pertandingan melawan Swedia akan menjadi laga gugur ke-19 Prancis di turnamen internasional besar sejak Deschamps memimpin tim. Tidak ada negara Eropa lain yang memainkan laga gugur sebanyak itu dalam periode yang sama.

Deschamps menegaskan situasi tanpa kesempatan kedua tidak boleh membuat pemain gugup atau bermain terlalu hati-hati. Menurut dia, tekanan seperti ini merupakan bagian dari permainan dan alasan utama mereka datang ke Piala Dunia.

“Sekarang tidak ada kesempatan kedua, tetapi itu bukan berarti kami harus bermain dengan gugup atau menahan diri,” kata Deschamps.

“Ini bagian dari permainan, dan para pemain bertanding untuk menang serta tahu tidak ada kesempatan kedua. Bersama klub, ada fase kualifikasi ketika Anda masih punya jaring pengaman. Di sini tidak ada. Ini bisa membutuhkan pendekatan berbeda, tetapi inilah tujuan kami datang, dan sekarang kami sudah di sini. Langkah berikutnya adalah masuk ke lapangan dan menang,” ujarnya.

Prancis kini memasuki fase yang lebih berbahaya. Mereka punya skuad kuat, pengalaman besar, dan mental juara. Namun, Deschamps tahu betul semua itu tidak cukup jika Les Bleus kehilangan fokus saat menghadapi Swedia.

Editor: Abdul Haris

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut