Leicester City Hancur! Dulu Juara Premier League, Kini Merosot ke Divisi 3
LONDON, iNews.id - Leicester City resmi terdegradasi ke League One atau divisi 3 untuk kedua kalinya dalam 142 tahun sejarah klub. Ini sekaligus mencatat degradasi beruntun pertama yang mengejutkan publik sepak bola.
Satu dekade setelah menjuarai Premier League dalam kisah yang dianggap sebagai salah satu keajaiban terbesar olahraga, klub tersebut kini justru terperosok ke kasta ketiga sepak bola Inggris. Perubahan drastis ini memicu pertanyaan besar tentang penyebab kejatuhan mereka.
Banyak pihak menilai kehancuran Leicester City tidak terjadi secara instan. Kondisi ini merupakan akumulasi masalah sistemik yang berakar dari keputusan manajemen, terutama di bawah kepemimpinan Aiyawatt Srivaddhanaprabha atau Top, serta peran Jon Rudkin sebagai Chief Football Officer.
Top mengambil alih klub pada 2018 setelah wafatnya sang ayah, Vichai Srivaddhanaprabha. Dia mewarisi kerajaan bisnis besar yang didukung King Power. Namun, kepemimpinannya dinilai tidak mampu menjaga standar yang sebelumnya dibangun.
David De Gea Berpeluang Comeback ke Premier League, Sinyalnya Makin Kuat
Hubungan dekat antara Top dan Rudkin menjadi sorotan. Kedekatan emosional yang terbangun setelah kepergian Vichai dinilai membuat evaluasi kinerja tidak berjalan objektif. Situasi ini berdampak langsung pada arah kebijakan klub.
Rudkin disebut bertanggung jawab atas berbagai keputusan yang berujung kerugian besar. Mulai dari perekrutan pemain, negosiasi kontrak, hingga penunjukan pelatih, semuanya berkontribusi pada kerugian ratusan juta serta sanksi pengurangan poin akibat pelanggaran aturan keuangan.
Ambisi Besar Arsenal, Incar Bintang Muda yang Bikin Sejarah di Premier League
Ironisnya, di tengah rentetan kegagalan tersebut, Rudkin justru mendapat promosi jabatan dalam restrukturisasi manajemen musim ini. Dia kini memegang peran yang lebih besar, termasuk mengawasi direktur olahraga baru.
Mantan kapten juara 2016, Wes Morgan, ikut mempertanyakan arah klub.
Coventry City Promosi ke Premier League setelah 25 Tahun, Frank Lampard Ukir Sejarah
"Harus ada penyelidikan mendalam tentang apa yang salah," kata Morgan dikutip dari Talks Sport.
Dia juga menambahkan, "Bagaimana kita [Leicester] bisa mendapatkan kembali identitas itu?"
Kisah Gila Mantan Bintang Arsenal: Mabuk Sebelum Debut Premier League, Lalu Cetak Hattrick Kilat
Pertanyaan tersebut mencerminkan krisis identitas yang kini dialami Leicester City. Klub dinilai kehilangan koneksi dengan pendukung, karyawan, serta nilai yang dulu menjadi fondasi kesuksesan mereka.
Masalah lain turut memperparah kondisi, termasuk keterlambatan pembayaran gaji staf menjelang Natal serta kerja sama sponsor dengan perusahaan kasino kripto yang tidak memiliki lisensi resmi di Inggris.
Survei dari Foxes Trust menunjukkan kekecewaan mendalam dari fans. Kata-kata seperti kecewa, terasing, dan kehilangan kepercayaan menjadi gambaran hubungan antara klub dan suporter saat ini.
Di lapangan, performa tim juga tidak membantu. Meski memiliki skuad berpengalaman dan anggaran gaji tertinggi di Championship, Leicester tampil jauh dari harapan.
Kesalahan mendasar terus terjadi, mulai dari blunder yang berujung gol lawan hingga kegagalan memanfaatkan peluang emas. Kombinasi ini membuat tim tersebut dianggap sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah klub.
Minimnya semangat juang semakin memperburuk situasi. Berbeda dengan tim Leicester di masa lalu yang dikenal pekerja keras, skuad saat ini dinilai kehilangan karakter tersebut, mempercepat kejatuhan klub ke titik terendah.
Editor: Reynaldi Hermawan