Komentar Cristian Chivu usai Bawa Inter Milan Juara Liga Italia, Filosofi Rendah Hati Jadi Kunci!
MILAN, iNews.id – Cristian Chivu memberikan komentar berkelas usai membawa Inter Milan juara Liga Italia 2025-2026. Dia menegaskan, kesuksesan meraih Scudetto ke-21 I Nerazzurri ini milik para pemain yang tampil luar biasa sepanjang musim.
Chivu langsung mencuri perhatian setelah sukses besar di musim perdananya sebagai pelatih tim utama Inter. Dia datang bukan sebagai pilihan utama, tetapi mampu membungkam keraguan dengan hasil nyata di lapangan.
Dia mengaku tidak terlalu memikirkan pencapaian pribadi meski kembali masuk dalam sejarah klub.
“Saya rasa saya sudah ada di sana sebelumnya,” ujarnya sambil tersenyum, dikutip dari Football Italia.
Gelandang Liverpool Kasih Lampu Hijau Pindah ke Inter Milan, Negosiasi Dimulai!
Chivu menegaskan fokus utamanya adalah tim, bukan dirinya sendiri. “Saya senang untuk para pemain, klub, dan para penggemar yang selalu mendukung kami sejak awal,” tuturnya.
Inter Milan tidak memulai musim dengan status unggulan mutlak. Mereka bahkan sempat mendapat kritik tajam setelah musim sebelumnya berakhir tanpa gelar. Chivu melihat momen tersebut sebagai titik balik penting bagi tim.
Lewandowski Pilih Pindah ke Juventus atau Inter? Jawabannya Misterius
“Para pemain bekerja keras, bangkit kembali, dan menemukan kekuatan untuk bersaing di musim ini,” ungkapnya.
Dia menilai konsistensi menjadi faktor utama keberhasilan Inter. Meski sempat mengalami kekalahan, tim selalu mampu merespons dengan cepat.
Rekan Jay Idzes Sepakat Gabung Inter Milan, Juventus Bisa Gigit Jari
“Musim itu seperti maraton, kami tim paling konsisten dan selalu bisa bangkit,” katanya.
Momentum besar terjadi pada periode Januari hingga Februari saat Inter meraih 14 kemenangan dari 15 pertandingan. Catatan itu menjadi fondasi kuat menuju gelar juara.
Resmi! Juventus Tantang Chelsea, Inter Hadapi Man City di Hong Kong
Chivu juga mengungkap filosofi kepemimpinannya yang berbeda. Dia mengaku sudah kehilangan ego sejak mengalami momen hidup dan mati dalam kariernya sebagai pemain.
“Saya harus berbicara dengan diri sendiri dalam momen antara hidup dan mati, sejak saat itu saya kehilangan ego,” ucapnya.
Pengalaman cedera kepala serius di masa lalu membentuk cara pandangnya sebagai pelatih. Dia kini lebih mengutamakan empati dan pemahaman terhadap pemain.
“Saya hanya mencoba menjadi versi terbaik dari diri saya untuk membantu para pemain,” tuturnya.
Inter tampil agresif sepanjang musim dengan torehan lebih dari 100 gol. Pendekatan menyerang ini menjadi salah satu kunci dominasi mereka di Serie A.
Chivu juga tidak lupa memberikan penghargaan kepada pelatih sebelumnya yang turut membangun fondasi tim.
“Para pemainlah yang memenangkan gelar dan mewujudkan mimpi,” ujarnya.
Keberhasilan ini terasa semakin istimewa karena dia mampu mengungguli pelatih top seperti Antonio Conte, Massimiliano Allegri, dan Luciano Spalletti dalam perebutan gelar.
“Saya hanya bisa belajar dari mereka dan akan terus belajar,” katanya menutup.
Editor: Abdul Haris