Italia Diminta Tinggalkan Tiki-Taka! Ruud Gullit: Kembali ke DNA Bek Tangguh
MILAN, iNews.id - Ruud Gullit mendesak Italia kembali ke DNA permainan bertahan kuat demi memulihkan kejayaan setelah gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia berturut-turut.
Legenda AC Milan itu menyoroti perubahan gaya bermain Italia yang dinilai menjauh dari identitas aslinya. Dia menilai pendekatan modern seperti tiki-taka tidak cocok diterapkan oleh semua tim.
Gullit memiliki pengalaman panjang di Serie A pada era keemasan, saat setiap klub hanya diizinkan memiliki tiga pemain asing. Dia menjadi bagian trio legendaris bersama Marco van Basten dan Frank Rijkaard di AC Milan.
Dalam wawancara bersama Sky Sport Italia, dia memberikan pandangan tegas soal kondisi sepak bola Italia saat ini.
Pep Guardiola ke Timnas Italia? Pengakuan Bonucci Bikin Heboh
Gullit menegaskan Italia harus kembali mengandalkan kekuatan utama yang telah menjadi ciri khas selama puluhan tahun.
“Anda harus kembali ke DNA Italia, yaitu bek yang bagus, penjaga gawang yang bagus, dan penyerang yang bagus,” kata Gullit dikutip dari Football Italia.
Insiden Tendangan Kungfu di Laga EPA, Fadly Alberto Langsung Dicoret dari Timnas Indonesia
Dia menilai kesuksesan terakhir Italia tidak lepas dari kekuatan lini belakang yang solid.
“Trofi terakhir yang dimenangkan Italia sebagian besar berkat Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Itu adalah DNA Anda, bek terbaik,” lanjutnya.
Terungkap! Fadly Alberto Dicoret Timnas U-20 usai Sumardji Telepon Nova Arianto
Gullit juga merespons wacana yang sempat muncul terkait keinginan menghadirkan Pep Guardiola sebagai pelatih timnas Italia.
Menurut dia, perubahan gaya bermain tidak selalu menjadi solusi utama untuk membangkitkan prestasi.
Profil Fadly Alberto Hengga: Striker Timnas yang Dicoret karena Tendangan Kungfu
“Saya tidak bermaksud Anda harus bertahan total, tetapi dulu ada Paolo Maldini di lini belakang, sementara Fabio Cannavaro memenangkan Ballon d'Or untuk Italia. Bertahan itu penting," lanjutnya.
Dia mengkritik tren tim yang memaksakan gaya bermain dari belakang seperti tiki-taka.
“Sekarang semua orang ingin memainkan tiki-taka dari area penalti sendiri, tetapi itu tidak cocok untuk semua orang,” tegasnya.
Sepanjang kariernya, Gullit mencatatkan 178 penampilan di Serie A dengan torehan 62 gol dan 46 assist.
Sebagian besar kariernya dihabiskan bersama AC Milan, sebelum sempat memperkuat Sampdoria dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Chelsea pada 1995.
Selama berseragam Milan, dia meraih tiga gelar Serie A, dua Liga Champions, dua Piala Super Eropa, satu Piala Interkontinental, dan dua Supercoppa Italiana.
Dia juga menambah koleksi trofi dengan memenangkan Coppa Italia bersama Sampdoria, memperkuat statusnya sebagai salah satu legenda besar sepak bola Eropa.
Editor: Reynaldi Hermawan