Inter Milan ke Final Coppa Italia, Chivu Bicara Lantang soal Double Winner
MILAN, iNews.id - Inter Milan kembali mencuri perhatian lewat comeback dramatis 3-2 melawan Como pada leg kedua semifinal Coppa Italia, Rabu (22/4/2026) dini hari WIB. Pelatih I Nerazzurri Cristian Chivu menyebut hanya Pazza Inter (Inter yang gila) yang mampu membalikkan defisit 0-2 dua kali dalam 10 hari.
Pertandingan ini menjadi lanjutan kisah luar biasa setelah sebelumnya Inter juga bangkit dari ketertinggalan 0-2 dan menang 4-3 di Serie A pada 12 April. Kali ini, skenario serupa kembali terjadi dengan tensi yang tak kalah tinggi.
Inter kembali tertinggal lebih dulu lewat gol Martin Baturina dan Lucas Da Cunha. Situasi tersebut sempat menempatkan Nerazzurri dalam tekanan besar di tengah pertandingan.
Namun, respons Inter menunjukkan mental juara. Hakan Calhanoglu tampil sebagai pembeda dengan mencetak dua gol, sekaligus memberikan assist untuk Petar Sucic yang memastikan kemenangan 3-2, baik dalam laga maupun agregat.
Jadwal Janice Tjen vs Alina Charaeva Hari Ini: Debut Krusial di Madrid Open 2026
Chivu menilai kontribusi pemain pengganti menjadi kunci kebangkitan.
“Kami memiliki skuad yang tampil sangat baik sejak awal musim, jadi ketika mereka dipanggil, mereka menunjukkan kemampuan mereka,” ujarnya kepada Sport Mediaset.
Barcelona Serius Incar Bastoni, Bos Inter Milan Kirim Pesan Menohok
Dia juga menyoroti peran pemain dari bangku cadangan.
“Mereka yang masuk hari ini memahami momen dan apa yang perlu dilakukan, jadi Diouf, Sucic, dan Pio Esposito memainkan peran mereka dan menunjukkan keberanian. Ini tim yang ingin tetap kompetitif hingga akhir," lanjutnya.
Inter Milan Sabet Scudetto ke-21 Pekan Depan, Ini Skenarionya
Keputusan tak memainkan Denzel Dumfries sejak awal sempat mengejutkan. Bahkan dia tidak langsung masuk menggantikan Luis Henrique, dengan posisi tersebut justru diisi Andy Diouf.
Chivu menjelaskan kondisi tersebut.
Inter Milan Hancurkan Cagliari, Chivu Justru Sindir Pemainnya Gegara Sering Main HP
“Denzel memiliki masalah kebugaran, dia mengatakan bisa bermain di menit akhir, tetapi dia merasakan sakit pada tendonnya. Melihat situasi pertandingan, dia siap mencoba, dan saya senang melihat pemain ingin memberikan segalanya untuk klub. Kami menyulitkan Como dari sisi sayap, Diouf tampil baik di kanan dan kiri," tuturnya.
Inter kini berada di jalur perebutan dua gelar sekaligus. Mereka unggul 12 poin di puncak klasemen Serie A dan akan menghadapi Lazio atau Atalanta di final Coppa Italia pada 13 Mei.
Chivu menegaskan timnya tidak sekadar bermimpi.
“Kami mendapatkan posisi ini melalui kerja keras, menempatkan diri dalam situasi yang memungkinkan untuk bermimpi dan mencapai target gelar Serie A dan Coppa Italia," ucapnya.
Keberhasilan membalikkan keadaan dari 0-2 dua kali dalam waktu singkat dinilai sebagai sesuatu yang langka. Inter menunjukkan ketajaman dengan membobol salah satu pertahanan terbaik di Italia.
Chivu menegaskan karakter timnya.
“Kami menyadari apa yang dilakukan Como, dan kami berhasil mencetak banyak gol melawan salah satu pertahanan terbaik di Italia. Para pemain sangat peduli pada Inter sehingga mereka berjuang keras untuk membalikkan keadaan," ucapnya.
Dia menutup dengan pernyataan tegas. “Membalikkan ketertinggalan 0-2 melawan Como dua kali dalam 10 hari, hanya Pazza Inter yang bisa melakukannya," kata dia.
Julukan “Crazy Inter” kembali mencuat setelah sempat meredup pada era Antonio Conte dan Simone Inzaghi yang lebih menekankan stabilitas permainan.
Terakhir kali Inter meraih double Serie A dan Coppa Italia terjadi pada era Jose Mourinho saat meraih treble pada 2010. Chivu, yang pernah menjadi bagian dari skuad tersebut, menanggapi perbandingan itu dengan santai.
“Itu karena media menyukai judul besar, tetapi saya hanya Cristian, tanggung jawab saya hanya untuk para pemain ini. Saya hanya mencoba melakukan pekerjaan sebaik mungkin untuk mereka yang percaya pada saya, untuk para pemain luar biasa ini, dan berharap membawa pulang target kami.”
Editor: Reynaldi Hermawan