Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Adik Lamine Yamal Kembali Viral di Piala Dunia 2026, Aksinya Bikin Gemas dan Curi Perhatian
Advertisement . Scroll to see content

Gaya Penalti Stutter ala Messi dan Mbappe Sering Gagal, Kenapa Tetap Dipakai?

Sabtu, 11 Juli 2026 - 09:00:00 WIB
Gaya Penalti Stutter ala Messi dan Mbappe Sering Gagal, Kenapa Tetap Dipakai?
Alasan Lionel Messi dan Kylian Mbappe tetap menggunakan teknik penalti stutter meski sering gagal. (Foto: Instagram)
Advertisement . Scroll to see content

LONDON, iNews.idLionel Messi dan Kylian Mbappe tetap menggunakan teknik penalti stutter meski tingkat keberhasilannya terus menjadi sorotan di Piala Dunia 2026. Legenda Chelsea, Pat Nevin, mengungkap alasan dua megabintang tersebut masih mempertahankan metode yang justru beberapa kali berujung kegagalan.

Performa Messi dan Mbappe dari titik putih menjadi pembahasan setelah keduanya gagal mengeksekusi penalti dalam dua pertandingan berbeda pada fase gugur Piala Dunia 2026.

Mbappe gagal mencetak gol melalui penalti saat Prancis mengalahkan Maroko 2-0 pada perempat final. Tendangan kapten Les Bleus berhasil dihentikan kiper Yassine Bounou.

Dua hari sebelumnya, Messi juga mengalami nasib serupa ketika penalti yang dia lepaskan mampu dibaca dan diamankan kiper Mesir, Mostafa Shobeir. Meski demikian, Argentina tetap membalikkan keadaan dan menang 3-2 di babak 16 Besar.

Kedua pemain menggunakan teknik stutter, yaitu memperlambat langkah sesaat sebelum menendang bola. Teknik tersebut bertujuan memancing kiper bergerak lebih dulu sebelum penendang menentukan arah bola.

Pat Nevin Ungkap Alasan Penalti Stutter Masih Dipakai

Pat Nevin menilai penggunaan teknik tersebut bukan sekadar gaya, melainkan bagian dari persaingan taktik antara penendang dan penjaga gawang.

"Ada perlombaan senjata yang sedang terjadi," kata Nevin dikutip dari The Sun.

Menurut Nevin, mencetak gol melalui penalti kini jauh lebih sulit dibandingkan beberapa tahun lalu karena kualitas penjaga gawang terus meningkat.

"Sekarang memang jauh lebih sulit mencetak gol lewat penalti. Alasannya, penjaga gawang sekarang lebih tinggi dan lebih atletis," ujarnya.

Dia menjelaskan penendang harus mengirim bola ke sudut gawang dengan kecepatan tinggi jika kiper berhasil menebak arah tendangan.

"Jika penjaga gawang bergerak ke arah yang benar, Anda harus mengarahkan bola ke sisi jaring dengan kecepatan tinggi. Bahkan setelah itu pun bola masih bisa ditepis."

Karena alasan tersebut, banyak pemain mencoba mengecoh kiper menggunakan langkah kecil atau jeda sebelum menendang.

"Penalti yang sangat bagus sekarang bukan lagi jaminan gol, jadi Anda harus memikirkan cara lain. Saya harus memastikan penjaga gawang bergerak ke arah yang salah, karena itu muncul teknik stutter untuk mengecoh mereka."

Data Kiper Jadi Tantangan Baru

Nevin menambahkan perkembangan analisis data membuat para penjaga gawang memiliki informasi lengkap mengenai kebiasaan para eksekutor penalti.

"Tentu saja para penjaga gawang memiliki data. Mereka tahu kebiasaan semua pemain. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan karena semua terlihat dari data."

Dia menilai persaingan antara penendang dan kiper terus berkembang dari waktu ke waktu.

"Selalu ada pertarungan untuk mencari cara mendapatkan keuntungan."

Nevin juga menyoroti rutinitas Mbappe sebelum mengambil penalti.

"Mbappe tahu keunggulannya adalah persiapan. Dia memiliki rutinitas saat meletakkan bola sebelum menendang."

"Dia melakukannya dua kali, tetapi masalahnya dia harus mengulanginya tiga kali, dan pada percobaan ketiga penalti itu berhasil ditepis."

Teknik stutter juga digunakan sejumlah pemain lain di Piala Dunia 2026, seperti Bruno Guimaraes, Jorgen Strand Larsen, Harry Kane, Cristiano Ronaldo, Neymar, Raul Jimenez, Yoane Wissa, dan Marko Arnautovic.

Statistik turnamen menunjukkan efektivitas teknik tersebut masih diperdebatkan. Dari 26 penalti dengan teknik stutter, termasuk adu penalti, hanya 15 yang berbuah gol. Sebaliknya, 24 dari 35 penalti tanpa teknik stutter berhasil menaklukkan penjaga gawang.

Selain itu, sekitar 30 persen penalti pada waktu normal gagal dikonversi menjadi gol di Piala Dunia 2026, menjadi salah satu angka kegagalan tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 1966.

Editor: Reynaldi Hermawan

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut