Alasan FIFA Ngotot Tambah Kontestan Piala Dunia 2030 Jadi 64 Negara, Timnas Indonesia Ketiban Untung
NEW JERSEY, iNews.id – Gianni Infantino semakin memiliki alasan kuat untuk mendorong Piala Dunia diikuti 64 tim pada edisi 2030. Kesuksesan Piala Dunia 2026 membuat Presiden FIFA menilai turnamen dengan jumlah peserta yang lebih banyak mampu menghadirkan lebih banyak cerita, kejutan, dan daya tarik bagi pencinta sepak bola di seluruh dunia.
Meski final Piala Dunia 2026 menuai kritik karena berlangsung minim hiburan, turnamen secara keseluruhan tetap dinilai sukses. Spanyol keluar sebagai juara dunia setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak perpanjangan waktu.
Laga final memang dianggap kurang menarik dibandingkan final Piala Dunia 2022 di Qatar. Permainan bertahan Argentina juga menjadi sorotan karena dinilai menghambat alur pertandingan yang dibangun Spanyol.
Namun, satu pertandingan tersebut tidak menghapus kesan positif sepanjang turnamen. Justru sebaliknya, Piala Dunia 2026 disebut meninggalkan banyak cerita yang membuat publik berharap turnamen berikutnya segera dimulai.
Gianni Infantino sebelumnya telah melontarkan gagasan memperluas jumlah peserta menjadi 64 negara pada Piala Dunia 2030. Usulan tersebut memunculkan pro dan kontra karena dianggap akan membuat jadwal pertandingan semakin padat sekaligus menambah beban fisik pemain.
Selain itu, FIFA juga dinilai akan memperoleh keuntungan finansial yang jauh lebih besar melalui bertambahnya jumlah pertandingan, hak siar, sponsor, dan pendapatan komersial lainnya.
Meski demikian slot yang bertambah membuat peluang Timnas Indonesia lolos semakin besar. Skuad Garuda gagal ke Piala Dunia 2026 setelah tumbang di babak kualifikasi ronde keempat.
Pada Piala Dunia 2026, negara-negara yang sebelumnya tidak diunggulkan mampu memberikan kejutan. Curacao, negara kepulauan Karibia dengan populasi sekitar 156.000 jiwa, mampu menahan imbang Jerman. Sementara Cape Verde memberikan perlawanan sengit kepada juara bertahan Argentina hingga batas kemampuan mereka.
Kejutan lainnya datang dari Republik Demokratik Kongo. Tim yang lolos melalui jalur play-off antarbenua itu hampir menyingkirkan Inggris. Mereka hanya berjarak sekitar 15 menit dari kemenangan pada penampilan pertama di putaran final sejak 1974, ketika masih bernama Zaire.
Berbagai cerita tersebut memperkuat anggapan jika Piala Dunia selalu menghadirkan alur yang sulit diprediksi. Hasil pertandingan tidak selalu mengikuti status unggulan maupun kekuatan di atas kertas.
Turnamen 2026 juga menjadi panggung penting bagi Lionel Messi. Menjelang ulang tahunnya yang ke-39, kapten Argentina itu tetap mampu tampil impresif dengan mencetak delapan gol dan menyumbang empat assist hingga membawa negaranya melaju ke final.
Bagi banyak pengamat, penampilan Messi semakin mengukuhkan warisannya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola. Kehadirannya kembali mengingatkan dunia mengapa Piala Dunia masih menjadi ajang paling bergengsi dalam olahraga ini.
Infantino bahkan menyebut Piala Dunia 2026 sebagai edisi terbaik sepanjang sejarah. Pendapat tersebut memang masih memicu perdebatan, tetapi kesuksesan turnamen, banyaknya kejutan, dan tingginya antusiasme publik menjadi modal besar bagi FIFA untuk terus mendorong wacana Piala Dunia dengan 64 peserta pada 2030.
Editor: Reynaldi Hermawan