5 Pemain Bola yang Lahir di Daerah Konflik, Nomor 2 Si Jenius dari Kroasia
JAKARTA, iNews.id – Pemain bola yang lahir di daerah konflik ini menarik untuk dibahas. Bahkan ada beberapa pemain yang jadi bintang top dunia meski lahir di tengah konflik.
Daerah konflik biasanya membuat kehidupan tidak berjalan dengan nyaman. Tak jarang dari mereka yang rela pindah demi mendapat hidup yang layak dan nyaman.
Kehidupan di tempat yang lebih aman dari sebelumnya membuat mereka menata karier dan kehidupannya lagi, salah satunya dengan sepak bola.
1. Alphonso Davies
Alphonso Davies, pemain yang lahir di Kamp Pengungsian Buduburan, Ghana pada 2 November 2000. Ia berasal dari keluarga pengungsi Liberia.
Prediksi Brasil vs Korea Selatan di Babak 16 Besar Piala Dunia, Taeguk Warriors Butuh Keajaiban Lagi
Pada 1999, tepatnya setahun sebelum kelahiran Davies, Liberia mengalami perang saudara yang memaksa warganya harus bermigrasi, termasuk keluarga Davies. Lima tahun keluarga Davies menetap di Gahana, akhirnya mereka pun pindah ke Kanada dan menetap disana.
Kehidupan keluarga Davies kian membaik. Davies pun bergabung dengan Free Footie, klub sepak bola yang dikhususkan untuk siswa sekolah yang kekurangan secara finansial.
Prediksi Jepang vs Kroasia di Babak 16 Besar Piala Dunia 2022, Samurai Biru Diunggulkan dengan Skor Begini
Hal ini sangat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Davies. ia berhasil tampil untuk Timnas Kanada sebagai pemain termuda di usianya yang ke 16 tahun.
2. Luka Modric
Luka Modric, Pemain bola yang lahir di Kroasia pada 1985 tumbuh di desa bernama Modrici. Saat perang terjadi di negara tersebut, hidupnya menjadi sulit.
Sang ayah, yang merupakan seorang tentara bertugas dalam peperangan. Ia pun tinggal bersama kakek-neneknya. Namun sayang, sang kakek harus terbunuh oleh kelompok pemberontak. Kondisi yang semakin tidak kondusif dan tak aman membuat keluarga Luka Modric harus pindah ke kota Zadar.
Miss Kroasia Tampil Super Seksi di Piala Dunia, Dilaporkan ke Pihak Berwenang?
Di Zadar, Modric dan keluarganya tinggal di pengungsian selama bertahun-tahun. Meskipun begitu, Modric berhasil mengembangkan kemampuannya untuk bermain sepak bola. Ia pun berhasil di rekrut oleh NK Zadar, klub asal Kroasia.
Kehidupannya berubah setelah dirinya direkrut oileh NK Zadar. Ia berhasil menjadi pemain sepak bola top. Bahkan, kini ia dikenal sebagai salah satu gelandang terbaik Real Madrid.
3. Dejan Lovren
Pemain bola yang lahir di daerah konflik berikutnya adalah Dejan Lovren. Dejan Lovren dan keluarganya mengungsi ke Jerman, kala perang Bosnia terjadi. Selama hidup di Jerman, enam bulan sekali mereka harus melaporkan diri agar mendapat izin tinggal.
Di Jerman, Lovren mengasah kemampuannya dalam bermain sepak bola. Ia pun berhasil direkrut oleh tim lokal. Namun, setelah perang usai, ia dan keluarganya kembali lagi ke Kroasia.
4. Awer Mabil
Awer Mabil, lahir di tempat pengungsian Kakuma, Kenya, pada 1995. Orang tuanya kabur dari konflik perang Saudara yang pecah di Sudan, maka dari itu Awer Mabil haris hidup di pengungsian.
Pada 2006, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Australia. Pada saat inilah Awer Mabil mengasah bakatnya dalam bermain sepak bola. Awer Mabil bermain untuk Adelaide United dan berhasil debut bersama Timnas Australia pada 2018. Kini, Awer Mabil juga memperkuat Timnas Australia di Piala Dunia 2022.
5. Eduardo Camavinga
Pemain bola yang lahir di daerah konflik berikutnya adalah Eduardo Camavinga. Camavinga lahir di sebuah kamp pengungsian di Cabinda, Angola, pada 2002. Orang tuanya berasal dari Republik Demokratik Kongo dan pindah ke Prancis di usia Camavinga yang ke-2.
Bakat bermain sepak bolanya ia asah dan berhasil dilirik para pencari bakat di Eropa. Di Usianya yang ke-17, ia berhasil menjadi pencetak gol termuda di Prancis dalam lebih dari satu abad.
Inilah deretan pemain bola yang lahir di daerah konflik. Meskipun tumbuh dan lahir di tempat yang kurang layak dan aman, mereka berhasil mengasah kemampuan hingga akhirnya berhasil menjadi pesepak bola handal.
Editor: Ibnu Hariyanto