NABIRE, iNews.id - Polisi telah memeriksa 38 saksi untuk menyelidiki penyebab kematian tak wajardokter spesialis paru dr Mawartih Susanty di rumah dinas RSUD Nabire, Papua Tengah. Proses penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap terang benderang fakta kasus tersebut.
Kapolres Nabire AKBP I Ketut Suarnaya mengatakan, keterangan para saksi yang berkesesuaian nantinya akan menjadi petunjuk akurat dalam penerapan dugaan tindak pidana dan penetapan pelaku. Bahkan tiga anggota Polres Nabire dan dokter ahli dari RSUD Nabire sudah dikirim untuk membawa jenazah dan mendampingi proses autopsi jenazah di Makassar.
Usut Kematian Dokter Paru di Nabire, Polisi 6 Kali Olah TKP dan Periksa 28 Saksi
Namun Kapolres mengungkapkan sejumlah kendala seperti hanya terdapat satu CCTV di lokasi kejadian dan beberapa saksi tak mengenalnya secara dekat.
"Ada indikasi kejanggalan, seperti pintu tidak ada yang rusak. Barang-barang tidak semua hilang. Secara pribadi, keterangan para saksi menyebut sifatnya beliau (korban) ini tertutup," ujar Kapolres, Jumat (17/3/2023).
Polisi Sebut Ada Kejanggalan dalam Tewasnya Dokter RSUD Nabire
Menurutnya di lokasi hanya handphone milik korban yang hilang. Selain itu kondisi tempat kejadian perkara (TKP) sudah rusak karena banyaknya warga yang masuk usai kejadian penemuan mayat.
Kapolres memperkirakan untuk mendapat perkembangan kasus membutuhkan waktu kurang lebih 2 minggu.
Kasus Dokter Paru Meninggal di Nabire, Polisi: Mulut Berbusa Belum Tentu Keracunan
"Kami juga terbuka untuk mendapat informasi dari masyarakat yang mengetahuk kejadian ini. Silakan informasikan akan kami dalami sehingga dapat maksimal," katanya.
Sebelumnya, penemuan mayat dokter perempuan menggegerkan warga Kelurahan Siriwini, Nabire, Papua Tengah, Kamis (9/3/2023). Korban diketahui seorang dokter spesialis paru yang ditemukan dalam kamar rumah dengan kondisi mulut berbusa.
5 Fakta Kematian Dokter Paru Satu-satunya di Nabire, Nomor 3 Tidak Wajar
Editor: Donald Karouw