Dikawal Wawali Cak Ji, 40 Korban Jastip Konser BTS Datangi Biro Wisata di Surabaya
SURABAYA, iNews.id - Puluhan perempuan yang merupakan penggemar grup idola asal Korea Selatan, Bangtan Sonyeondan (BTS) atau ARMY, mendatangi rumah yang sekaligus berfungsi sebagai kantor biro perjalanan wisata di kawasan Jagir, Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (14/7/2026).
Kedatangan mereka untuk menagih pengembalian dana (refund) atas dugaan penipuan jasa titip (jastip) tiket konser BTS dan paket tur luar negeri yang dikelola oleh salah satu komunitas fanbase. Kedatangan puluhan korban ini turut didampingi langsung oleh Wakil Wali (Wawali) Kota Surabaya, Armuji.
Keributan dan adu mulut pun tak terhindarkan saat Cak Ji, sapaan akrab Armuji bersama massa korban menuntut pertanggungjawaban dari pemilik biro travel selaku pihak yang memfasilitasi pembelian tiket tersebut. Pihak travel dinilai terus menghindar setelah gagal memenangkan perburuan (war) tiket konser yang dinanti-nantikan para penggemar.
Berdasarkan data sementara di lapangan, sedikitnya ada 40 korban yang seluruhnya merupakan perempuan mendatangi lokasi. Namun, jumlah korban disinyalir jauh lebih banyak karena mereka semua terhimpun dalam satu grup WhatsApp fanbase BTS yang melakukan transaksi jastip kolektif melalui travel tersebut. Total kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
"Kami ke sini hanya menuntut hak kami. Uang sudah masuk, tapi tiket gagal didapat dan proses refund yang dijanjikan terus-menerus meleset dari tanggal kesepakatan," ungkap salah seorang perwakilan korban jastip tiket, Sarah Naila, Selasa (14/7/2026).
Penderitaan para korban ternyata tidak berhenti pada perkara tiket konser saja. Beberapa korban lainnya bahkan mengalami kerugian ganda karena telah melunasi paket perjalanan wisata luar negeri untuk menonton konser BTS tersebut, namun berujung gagal berangkat secara sepihak.
"Kami sudah bayar lunas untuk paket tour konsernya sekalian, tapi malah zonk dan tidak ada kejelasan keberangkatan sama sekali dari pihak travel," kata Riri, korban penipuan paket perjalanan.
Namun, dalam mediasi panas yang dihadiri oleh Wakil Wali Kota Surabaya tersebut, tidak tercapai kesepakatan atau titik temu antara kedua belah pihak. Pemilik biro travel dinilai belum bisa memberikan jaminan konkret kapan uang ratusan juta tersebut akan dikembalikan utuh.
Kecewa dengan hasil pertemuan, para korban berencana merapatkan barisan untuk mengambil langkah lanjutan. Jika tidak ada iktikad baik dalam waktu dekat, mereka menegaskan akan menempuh jalur hukum dengan melaporkan pemilik travel ke kepolisian atas dugaan penipuan dan penggelapan.
Pantauan di lokasi pada Selasa pagi usai digeruduk massa, kantor biro travel yang terletak di kawasan padat penduduk Jagir tersebut tampak sepi aktivitas. Pagar besi di bagian depan rumah terlihat tertutup rapat dan digembok dari dalam.
Editor: Kastolani Marzuki