Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Cek Kabar Pembatasan Hijab bagi Karyawati, Anggota DPR Datangi Mal di Purwokerto
Advertisement . Scroll to see content

Siswa Menangis Histeris karena Tak Diterima di Sekolah Favorit

Rabu, 04 Juli 2018 - 18:01:00 WIB
Siswa Menangis Histeris karena Tak Diterima di Sekolah Favorit
Seorang ibu menenangkan putrinya yang menangis karena kecewa tidak diterima di sekolah favoritnya di Banyumas, Jateng. (Foto: iNews/Saladin Ayyubi)
Advertisement . Scroll to see content

BANYUMAS, iNews.id – Penerimaan siswa baru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), diwarnai tangis histeris para siswa yang tidak diterima di sekolah favorit. Sementara para orang tua siswa emosi dan juga memprotes keras kebijakan penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang mengutamakan zonasi.

Salsabila menjadi salah satu siswa yang menangis histeris ketika mengetahui dirinya tidak diterima di SMP Negeri 2 Purwokerto. Salsabila yang nilainya cukup tinggi tidak menduga terpental dari daftar jurnal PPDB hanya karena rumah orang tuanya berada di zona tidak aman.

“Saya ingin sekolah di sini karena semua keluarga juga sekolah di sini,” kata Salsabila, yang menangis di pelukan ibunya, Rabu (4/7/2018).

Tidak hanya Salsabila, sejumlah siswa juga menangis di depan ruang penerimaan siswa baru. Mereka kecewa karena sudah jelas tergusur dari daftar jurnal. Sementara nilai rata-rata mereka bagus. Kepanikan para siswa bertambah saat salah satu orang tua siswa kesurupan di lokasi penerimaan siswa baru. Orang tua siswa ini akhirnya digotong ke ruang kesehatan siswa untuk ditenangkan.

Penutupan PPDB di sekolah-sekolah di Purwokerto Kabupaten Banyumas, Jateng, juga diwarnai aksi protes orang tua siswa. Mereka tidak terima karena anaknya tidak bisa diterima di sekolah yang diharapkan meskipun nilainya tergolong tinggi. Para orang tua siswa menganggap kebijakan PPDB dengan sistem zonasi merugikan siswa berprestasi. Usaha mereka belajar keras agar bisa meraih nilai yang tinggi justru dianggap sia-sia.

“Kalau menurut saya kebijakan ini kurang efektif karena orang yang pintar menjadi bodoh gara-gara lokasi rumah jauh dari sekolah. Ada satu guru yang mengatakan, tidak perlu belajar, yang penting sekolah dekat rumah, pasti diterima. Itu kan menyakitkan hati. Anak saya selalu saya gembleng agar berprestasi, tidak ada artinya,” kata wali murid, Sugotho.

Wali murid lainnya, Joko Setyo juga mengungkapkan kekecewaannya. Apalagi mengingat perjuangan anaknya belajar menghadapi ujian agar mendapatkan nilai terbaik.

“Saya yang tahu bagaimana perjuangan anak saya. Waktu ujian, anak saya itu sakit kena cacar air. Demi mendapatkan nilai yang terbaik, anak saya ikut, alhamdulillah nilai rata-ratanya 8,8. Tapi, bisa dikalahkan dengan siswa lain yang nilai rata-ratanya lebih rendah hanya karena persoalan zonasi. Apresiasi negara untuk anak-anak yang mau belajar ini bagaimana,” papar Joko Setyo.

Editor: Maria Christina

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut