Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Gadis 18 Tahun Dibegal di Kendal, Pelaku Ancam Pakai Golok Rampas HP dan Uang
Advertisement . Scroll to see content

Harga Gabah Semakin Anjlok, Petani di Kendal Tolak Rencana Impor Beras

Kamis, 25 Maret 2021 - 09:34:00 WIB
Harga Gabah Semakin Anjlok, Petani di Kendal Tolak Rencana Impor Beras
ilustrasi petani saat panen. (dok iNews)
Advertisement . Scroll to see content

KENDAL, iNews.id - Rencana impor beras yang dilakukan pemerintah mendapat penolakan dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.  Pasalnya petani saat ini memasuki masa panen berdampak harga gabah turun.

Jika tetap impor maka akan semakin anjlok harga gabah milik petani. Guna menyiasati kerugian, petani terpaksa memanen sendiri sehingga bisa memangkas biaya panen.

Harga gabah di Kabupaten Kendal sendiri kini hanya dibeli Rp3.500 per kilogram. Padahal sebulan sebelumnya sempat dijual Rp4.300. Petani sendiri khawatir harga gabah akan semakin anjlok jika pemerintah tetap berencana impor beras.

Sementara itu  salah seorang petani di Kelurahan Bugangin Kendal,  Toharjo dengan tegas menolak adanya rencana pemerintah yang akan mengimpor beras. “Saat ini harga panen padinya anjlok dan merugi karena tidak cukup untuk menutup biaya pengelolaan,” kata Toharjo, Kamis (25/3/2021).

Petani sendiri terpaksa melakukan panen sendiri/ dengan dibantu kerabatnya untuk menghemat biaya panen yang mencapai jutaan rupiah. Petani juga melakukan penen dengan mesin tradisonal. “Tidak menggunakan mesin agar masih  mendapatkan untung,” katanya.

Sementara itu Ketua HKTI Kendal, Tardi dengan tegas menolak  rencana pemerintah yang akan mengimpor beras. Pasalnya sekarang memasuki  panen raya, sementara harga gabah basah saat ini juga anjlok. “Jika tetap  impor beras dikhawatirkan, harga gabah bisa semakin anjlok dan kerugian petani semakin banyak,” kata Tardi.

Menurutnya, keuntungan petani berkurang karena biaya pengelolaan tanaman padi. “Tiap tahun cenderung naik. Selain  harga sewa lahan sawah dan upah buruh tani yang naik, kelangkaan pupuk bersubsidi membuat  biaya untuk perawatan bertambah,” ujarnya.

Editor: Ahmad Antoni

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut