Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bangkai Ayam Dijadikan Pakan, Peternakan Lele di Garut Diprotes Warga
Advertisement . Scroll to see content

Dituding Gunakan Bangkai Ayam, Pemilik Peternakan Lele di Garut Tak Terima

Rabu, 16 Februari 2022 - 18:11:00 WIB
Dituding Gunakan Bangkai Ayam, Pemilik Peternakan Lele di Garut Tak Terima
Suasana kolam kosong karena ikan lele telah dipanen. Peternakan ini dituding warga telah menyebakan bau busuk. (Foto: iNews.id/Fani Ferdiansyah)
Advertisement . Scroll to see content

GARUT, iNews.id - Polemik keberadaan peternakan lele di Kampung Buleud, Desa Jati, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, kembali bergulir. Masalah yang bermula dari munculnya keluhan warga terkait bau tak sedap itu, membuat pemilik peternakan selaku pengelola angkat bicara.

Rian Revi Fauzi, pemilik perusahaan Mandiri Farm, membantah bila peternakan lele yang dia kelola menghasilkan bau busuk. Dia juga menepis bila peternakannya menggunakan bangkai ayam sebagai pakan ikan.

“Saya tidak menggunakan bangkai untuk pakan ikan. Lagi pula, baunya juga tidak busuk seperti yang ramai dibicarakan,” kata Rian, kepada wartawan saat ditemui di lokasi peterakan ikannya, Rabu (16/2/2022).

Kendati demikian, dia tak menampik bila dalam praktiknya dirinya menggunakan daging sebagai pakan. Namun, daging yang digunakan bukan daging busuk melainkan daging segar yang dibeli ke salah satu pabrik pengolahan ayam.

“Memang benar, untuk pakan lele itu campuran. Kepala ayam digiling dicampur dengan pelet. Tujuannya untuk meringankan biaya produksi. Tapi bukan busuk, kondisi daging yang saya beli itu segar. Cuma kan daging seperti kepala ayam yang sudah tinggal sebelah, usus dan ceker dari pabrik itu tidak mungkin dijual luas ke pasar. Ini yang saya beli dari Pokphand (Charoen Pokphand Indonesia),” katanya.

Menurutnya, peternak ikan telah biasa mempraktikan apa yang dia lakukan dalam mengolah pakan untuk lele ini. 

“Yang menggiling pakan dengan daging ini sudah umum kok, bukan hanya saya. Malah banyak (peternakan) yang lebih besar membeli daging dalam jumlah banyak. Kalau saya hanya 50 kg saja,” ujarnya.

Rian membenarkan bila proses pencampuran daging yang telah digiling dan dicampur pelet itu menghasilkan bau. “Tapi hanya bau-bau amis seperti itu, bau anyir. Jangkauan luasnya juga tidak terlalu jauh apalagi sampai ke masyarakat sekitar,” ucapnya.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut