Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 6 Juni 2026, Cek Lokasinya
Advertisement . Scroll to see content

Dianggap Menyebarkan Radikalisme, Pesantren di Subang Digeruduk Warga

Senin, 25 Desember 2017 - 08:16:00 WIB
Dianggap Menyebarkan Radikalisme, Pesantren di Subang Digeruduk Warga
Ratusan warga menyerbu Pesantren Miftahul Huda di Subang, Jawa Barat, lantaran dituduh mengajarkan paham radikalisme. (Foto: iNews/Yudy Heryawan Juanda)
Advertisement . Scroll to see content

SUBANG, iNews.id - Lantaran dianggap mengajarkan radikalisme, sebuah pondok pesantren di Subang, Jawa Barat, diserbu ratusan warga, Minggu, 24 Desember 2017, tadi malam. Warga menuntut Pesantren Miftahul Huda di Ciasem, Subang itu ditutup dan dibubarkan. Pasalnya, santri dan guru di pesantren tersebut cenderung tertutup dari lingkungan, sehingga meresahkan masyarakat.

Pondok Pesantren yang terletak di Dusun Bungur Gede, Desa Sukahaji, Kecamatan Ciasem, Subang, ini, diketahui beberapa kali terlibat kasus terorisme. Warga yang resah dengan keberadaan pesantren ini pun hendak mengusir seluruh jamaah yang berada di pesantren agar meninggalkan kampung mereka.

Beruntung petugas kepolisian segera turun ke lokasi sehingga tidak terjadi bentrokan antara warga dengan jemaah pesantren. Warga resah dengan aktivitas pesantren yang mencurigakan dan tertutup. Apalagi beberapa kasus teroris selalu berhubungan dengan pesantren ini. Seperti kasus bom Thamrin yang pelakunya merupakan jamaah dari pesantren ini.

Kemarahan warga memuncak ketika salah seorang anggota jamaah pesantren tertangkap basah mencuri sepeda motor salah satu warga. Ratusan warga akhirnya mendatangi pesantren dan hendak mengusir para jemaah. Bahkan diketahui, selain tertutup dengan masyarakat sekitar, para jamaah pesantren ini sering berlatih fisik dengan menggunakan senjata tajam.

Polisi mengevakuasi warga penghuni Pesantren Miftahul Huda. (Foto: iNews/Yudy Heryawan Juanda)


Mastono, salah seorang warga Desa Sukahaji mengatakan, selama ini para jamaah pesantren itu memang sangat tertutup terhadap warga sekitar. Akhirnya warga pun curiga lantaran banyaknya aktivitas yang diduga sebagai pelatihan teroris.

“Mereka bahkan tidak ngaji sepertinya di dalam. Hanya latihan fisik seperti push up, latihan menggunakan senjata, menembak dan sebagainya. Pokoknya meresahkan masyarakat lah. Makanya kami meminta seluruh jamaahnya dievakuasi saja dan pesantren ini segera ditutup,” ucapnya.

Sebanyak 39 jamaah termasuk anak-anak akhirnya diamankan oleh pihak kepolisian ke Dinas Sosial setempat untuk menghindari amuk masa. Polisi memasang garis polisi di pondok pesantren ini dan menyita beberapa buku dan laptop.

Kapolres Subang, AKBP Muhammad Joni menjelaskan, 39 orang yang dievakuasi terdiri dari 19 orang anak-anak dan 20 orang dewasa. Polisi masih akan mendalami mengenai keterkaitan pesantren ini dengan penyebarluasan ide-ide radikal.

“Kami masih dalami mengenai dugaan tersebut. Yang paling penting adalah mengevakuasi dulu para jamaah yang ada di sini untuk menghindari konflik atau tindakan anarkis dari warga yang tak menginginkan keberadaan mereka di tempat ini,” katanya.

Editor: Himas Puspito Putra

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut