Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dampak Covid-19, Menkeu Prihatin dengan Masalah Stunting Anak Indonesia
Advertisement . Scroll to see content

Angka Prevalensi Stunting di KBB Sudah di Bawah Persentase Nasional

Jumat, 28 Mei 2021 - 20:11:00 WIB
Angka Prevalensi Stunting di KBB Sudah di Bawah Persentase Nasional
Ilustrasi penanganan stunting. (Foto: ist)
Advertisement . Scroll to see content

BANDUNG BARAT, iNews.id - Angka prevalensi stunting di Kabupaten Bandung Barat (KBB) sudah di bawah angka yang disyaratkan pemerintah pusat. Berdasarkan hasil Bulan Penimbangan Balita terakhir pada Februari 2021, angka prevalensi telah mencapai 11,5 persen.

"Meskipun sudah mencapai target nasional di bawah 14 persen, angka prevalensi stunting di KBB akan tetap prioritas dalam pencegahannya," kata Kadinkes KBB Eissenhower Sitanggang melalui Kabid Kesehatan Masyarakat, Dewi Muniarti saat dikonfirmasi, Jumat (28/5/2021).

Dia menyebutkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi prevalensi stunting. Di antaranya ialah masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pelaksanaan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di tingkat keluarga.

Selain itu, kondisi pandemi Covid-19 juga turut mempengaruhi kondisi kesehatan dan perekonomian atau daya beli masyarakat. Sehingga pencegahan dan penanggulangan stunting yang bisa dilakukan melalui program kesehatan seperti gizi, kesehatan ibu dan anak, kesehatan lingkungan, penanggulangan diare, imunisasi, dan promosi kesehatan. 

"Kami juga memberikan program kegiatan pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK) dan anemia. Kemudian kegiatan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, bayi, balita, dan remaja putri," ujarnya. 

Menurutnya, anggaran untuk menangani stunting di Dinkes KBB bersumber pada APBD KBB serta Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik dan DAK non-fisik stunting dari pemerintah pusat. Diharapkan melalui penanganan intensif angka prevalensi stunting di tahun-tahun yang akan datang bisa terus mengecil. 

"Sunting merupakan kondisi gagal tumbuh, baik pertumbuhan maupun maupun perkembangan otak. Ini bisa dicegah sampai anak usia dua tahun, jika terlambat maka bisa permanen, sehingga kecerdasan anak lebih rendah atau kurang dibanding dengan yang normal," ucapnya. 

Editor: Asep Supiandi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut