Gunung Lewotobi Laki-Laki Meletus Dahsyat Malam Ini, Semburkan Abu Vulkanik 1.500 Meter
FLORES TIMUR, iNews.id – Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali meletus dahsyat, Senin (8/6/2026) malam WIT. Letusan tersebut memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 1.500 meter atau 1,5 km di atas puncak gunung.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki ini terjadi pada pukul 18.14 WITA saat status Gunung Lewotobi Laki-laki masih berada pada Level III Siaga.
PVMBG mencatat tinggi kolom abu teramati mencapai sekitar 1.500 meter di atas puncak atau sekitar 3.084 meter di atas permukaan laut.
“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 29,6 mm dan durasi ± 2 menit 2 detik,” tulis PVMBG.
Erupsi tersebut menjadi salah satu aktivitas vulkanik yang terus dipantau petugas Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-laki mengingat intensitas aktivitas gunung masih fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir.
Seiring meningkatnya aktivitas vulkanik, PVMBG kembali mengingatkan masyarakat dan wisatawan untuk tidak beraktivitas apa pun di sekitar kawah aktif.
Masyarakat diminta menjauhi area dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi guna menghindari risiko bahaya lontaran material vulkanis maupun potensi aktivitas lanjutan.
Selain itu, warga diminta tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah daerah serta petugas terkait.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan sekitar gunung.
Daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, hingga Nawakote yang berada di jalur sungai berhulu dari puncak Gunung Lewotobi Laki-laki.
Selain ancaman lahar, warga yang terdampak hujan abu vulkanik diminta menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut guna mengurangi risiko gangguan pernapasan.
Editor: Kastolani Marzuki