Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ipone Kembangkan Teknologi Pelumas Motor 100 Persen Synthetic
Advertisement . Scroll to see content

Konflik Timur Tengah Berkepanjangan, ADNOC Khawatir Harga Pelumas Kendaraan Naik

Rabu, 18 Maret 2026 - 10:29:00 WIB
Konflik Timur Tengah Berkepanjangan, ADNOC Khawatir Harga Pelumas Kendaraan Naik
Pelumas ADNOC. (Foto: Dani M Dahwilani)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Produsen pelumas Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) menyoroti konflik di Timur Tengah akibat perang antara AS-Israel vs Iran pecah. Ini menyebabkan perdagangan internasional yang membawa minyak dan sumber daya lainnya seperti pelumas (oli) diblokade.

Direktur Sales and Marketing PT Garuda Petro Perkasa, Ismet Sebastian, mengatakan kondisi operasional di ADNOC sejauh ini masih berjalan normal. Produksi tetap berlangsung tanpa hambatan berarti di tingkat hulu.

"Kalau di ADNOC sendiri, kita kan sering koresponden ya, kita menanyakan juga situasi di situ. Kalau mereka itu, day to day mereka itu enggak berubah. Tetap produksi, tetap berjalan seperti biasa. Bahkan rajanya itu, mengen-courage orang hidup normal seperti biasa," ujarnya, saat berbincang dengan media, Selasa (17/3/2026).

Namun, dia menyebut kendala utama justru terjadi pada jalur distribusi. Pengiriman melalui jalur laut terganggu akibat ketidakpastian di kawasan, termasuk isu blokade Iran di Selat Hormuz.

"Jadi dalam proses mereka produksi, tetap jalan. Nah bedanya saat ini, shipping line yang enggak jalan. Jadi misalnya kami nih, kami ada beberapa PO (purchase order), beberapa pengiriman yang tidak bisa datang," katanya.

Ismet menjelaskan, gangguan shipping membuat pengiriman pelumas asal Uni Emirate Arab (UEA) ini ke berbagai negara, termasuk Indonesia, mengalami penundaan. Meski demikian, stok dalam negeri masih relatif aman untuk beberapa bulan ke depan.

"Biasanya kan tidak, tiap bulan kan kami ada pengiriman. Saat ini ya terhenti sementara. Tapi karena kita memang punya stok, itu masih gini lah, masih ada barang," ujarnya.

Menurut dia, ketahanan stok bervariasi tergantung jenis produk. Beberapa produk memiliki cadangan hingga 3 bulan, sementara lainnya bisa bertahan hingga 8–9 bulan.

Terkait harga, Ismet mengakui potensi kenaikan tetap ada jika konflik berkepanjangan dan berdampak luas secara global. Namun, perusahaan masih memilih menahan harga selama belum terjadi lonjakan signifikan.

"Kami wait and see lah. Intinya kita nggak mau ambil ini sebagai peluang untuk main menaikkan harga gitu loh. Walaupun kami akan naikkan, itu karena memang sudah terjadi lonjakan," katanya.

Di sisi lain, pasar pelumas otomotif di Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh. Pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat menjadi faktor utama, meskipun sebagian mulai diisi oleh kendaraan listrik.

"Kalau pelumas di ADNOC mungkin di atas 10 persen. Tetap bertumbuh," ucap Ismet.

Dia menambahkan, saat ini kontribusi terbesar masih berasal dari segmen otomotif, khususnya mobil. Meski begitu, perusahaan juga berencana memperluas pasar ke sektor industri di masa depan.

Kondisi global yang belum stabil, pelaku industri berharap konflik segera mereda agar distribusi dan perdagangan kembali normal serta tidak menekan harga di pasar domestik.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut