Produsen Otomotif China Minta Perlakuan Sama dengan Pabrikan Jepang di Indonesia
JAKARTA, iNews.id - Produsen otomotif asal China yang mulai menanamkan investasi di Indonesia berharap mendapatkan dukungan pemerintah setara dengan perusahaan otomotif Jepang. Harapan tersebut muncul setelah pemerintah konsisten memberikan berbagai insentif dan kemudahan bagi industri otomotif selama bertahun-tahun.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan, dukungan pemerintah terhadap investor Jepang menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia tetap menarik sebagai tujuan investasi otomotif di kawasan.
Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo, Jongkie Sugiarto mengatakan, sejumlah prinsipal otomotif asal China yang sedang membangun investasi di Indonesia menyampaikan keinginan untuk memperoleh perlakuan yang sama agar dapat merealisasikan rencana bisnis jangka panjang.
"Melihat dukungan dari pemerintah terhadap industri otomotif Jepang di Indonesia, beberapa perusahaan otomotif dari Tiongkok yang saat ini sedang mulai berinvestasi di Indonesia menyatakan keinginannya untuk mendapatkan dukungan yang sama dari pemerintah agar dapat menjalankan rencana jangka panjangnya di Indonesia," ujar Jongkie dalam keterangan pers Gaikindo, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, keinginan tersebut menjadi sinyal positif jika Indonesia masih memiliki daya tarik besar bagi para produsen otomotif global untuk berinvestasi.
Jongkie menilai, industri otomotif nasional masih memiliki prospek menjanjikan. Sebab itu, sinergi antara pemerintah dan pelaku industri perlu terus diperkuat agar Indonesia mampu mempertahankan posisinya sebagai basis produksi kendaraan di kawasan.
Gaikindo mengapresiasi komitmen pemerintah terus menjadikan investor Jepang sebagai mitra strategis dalam pembangunan industri manufaktur nasional. Selama ini, pemerintah memberikan berbagai dukungan melalui fasilitas investasi, insentif fiskal, regulasi yang adaptif, hingga forum komunikasi rutin antara pemerintah dan pelaku industri otomotif.
Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi GAIKINDO, Anton Kumonty, mengatakan berbagai kebijakan tersebut menjadi bukti konsistensi pemerintah dalam menjaga daya saing industri otomotif nasional.
"Gaikindo melihat pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, telah menunjukkan komitmen yang konsisten dalam mendukung industri otomotif nasional. Berbagai kebijakan yang diterapkan, mulai dari pemberian fasilitas investasi, insentif fiskal, hingga forum dialog yang rutin dengan pelaku industri, merupakan bentuk nyata upaya pemerintah dalam menjaga daya saing industri otomotif Indonesia sekaligus memberikan kepastian bagi seluruh investor,"* kata Anton.
Gaikindo mencatat investasi Jepang di Indonesia tidak hanya dilakukan pada sektor manufaktur kendaraan dan komponen, tetapi juga mencakup pembangunan ekosistem industri pendukung.
Dalam lima tahun terakhir, Jepang mengambil komitmen jangka panjang dengan mendukung pembangunan Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang serta Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) atau proving ground di Bekasi. Kehadiran infrastruktur tersebut dinilai memperkuat rantai pasok dan meningkatkan daya saing industri otomotif nasional.
Selain itu, pemerintah juga dinilai aktif memberikan berbagai fasilitas seperti User Specific Duty-Free Scheme (USDFS) yang membebaskan bea masuk impor bahan baku dan komponen tertentu, serta insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang sebelumnya membantu menjaga penjualan kendaraan di pasar domestik.
Gaikindo meyakini kolaborasi yang erat antara pemerintah, investor, dan pelaku industri akan menjadi kunci agar Indonesia tetap menjadi tujuan investasi otomotif yang kompetitif di tengah transformasi industri global.
"Sebagai asosiasi yang mewadahi industri kendaraan bermotor di Indonesia, Gaikindo akan terus mendukung terciptanya ekosistem industri otomotif yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku industri, serta seluruh pemangku kepentingan," kata Anton.
Editor: Dani M Dahwilani