Hyundai dan Kia Buka Peluang Bikin Mobil Kembar, Kolaborasi Produk Cikarang
JAKARTA, iNews.id – Hyundai Motors Indonesia (HMID) membuka peluang menghadirkan produk kembar hasil kolaborasi (rebadge) dengan Kia di pasar otomotif nasional. Langkah kolaborasi ini seiring rencana Kia memanfaatkan fasilitas produksi Hyundai di Cikarang, Jawa Barat, untuk mempercepat penetrasi pasar di Indonesia.
Pabrik yang dimaksud berada di Greenland International Industrial Center. Fasilitas tersebut akan menjadi basis produksi Kia setelah merek asal Korea Selatan itu kembali dikelola langsung oleh prinsipal di Tanah Air.
Chief Operating Officer PT HMID, Fransiscus Soerjopranoto, mengatakan peluang produk kembar terbuka karena kedua merek berada dalam satu grup global. Namun, dia menegaskan realisasinya masih akan dikaji lebih lanjut.
"Posibiliti (produk kembar) ada, tapi kita akan lihat dulu. Karena ini kan sama-sama satu group," ujar Fransiscus Soerjopranoto di IIMS 2026.
Dia menambahkan, hingga kini belum ada pembahasan detail terkait model kolaborasi yang akan dijalankan. Menurut dia, komunikasi intensif dengan Kia masih diperlukan sebelum keputusan strategis diambil.
"Tapi kita belum ada pembicaraan dengan Kia, apakah akan ada produk kolaborasi seperti kayak Toyota dan Daihatsu," kata Frans.
Di sisi lain, Chief Executive Operation Kia Sales Indonesia, Jong Sung Park, menyebut fasilitas produksi Hyundai memiliki peran penting dalam rencana jangka menengah Kia di Indonesia. Dengan tidak lagi bergantung pada distributor pihak ketiga, Kia kini fokus memperkuat fondasi produksi lokal.
“Ya, kami akan menggunakan pabrik Hyundai. Fasilitas tersebut sangat berguna bagi kami,” ujar Park di Jakarta.
Sebagai bagian dari strategi kolaborasi tersebut, Kia menyiapkan dua model MPV untuk diproduksi di pabrik Cikarang. Model pertama adalah MPV listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) yang dijadwalkan mulai diproduksi pada akhir 2026 dan diluncurkan pada awal 2027.
Model kedua merupakan MPV bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) dengan kapasitas tujuh penumpang. Kehadiran dua model ini mencerminkan pendekatan ganda, baik untuk segmen kendaraan listrik maupun pasar konvensional yang masih besar di Indonesia.
Pemanfaatan fasilitas produksi bersama dinilai memberi keuntungan efisiensi biaya dan percepatan pengembangan produk. Kolaborasi ini juga memungkinkan berbagi teknologi dan sumber daya, sehingga meningkatkan daya saing di tengah dinamika industri otomotif yang terus bergerak menuju elektrifikasi.
Bagi Hyundai, produksi tambahan di fasilitas Cikarang berpotensi mengoptimalkan kapasitas manufaktur. Sinergi dua merek asal Korea Selatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi di pasar domestik sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin beragam.
Editor: Dani M Dahwilani