Hati-Hati! Kilometer Odometer Digital Lebih Mudah Dimanipulasi Penjual Mobil Bekas Nakal
JAKARTA, iNews.id - Membeli mobil bekas membutuhkan kewaspadaan ekstra. Sebab, tidak sedikit penjual mobil nakal memanfaatkan teknologi odometer untuk memanipulasi jarak tempuh kendaraan demi menaikkan harga jual.
Praktik pengurangan kilometer pada odometer membuat mobil terlihat lebih “muda” dan seolah jarang digunakan. Padahal, kondisi sebenarnya bisa jauh berbeda dan berisiko merugikan pembeli dalam jangka panjang.
Sebab itu, pemalsuan odometer masih menjadi salah satu modus penipuan paling umum di pasar mobil bekas. Bahkan, laporan terbaru dari Carfax mengungkap lebih dari 20.000 mobil bekas di Kanada terindikasi mengalami manipulasi jarak tempuh sepanjang 2025.
Carfax mencatat terdapat 20.642 kendaraan dengan dugaan pengurangan kilometer berdasarkan laporan riwayat kendaraan yang dipesan tahun lalu. Angka tersebut diyakini hanya sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya terjadi.
Manipulasi odometer dilakukan dengan cara mengurangi angka jarak tempuh kendaraan agar tampak lebih rendah. Pada era odometer mekanis, praktik ini membutuhkan pembongkaran fisik perangkat. Namun kini, odometer digital justru dinilai lebih mudah diretas menggunakan alat khusus yang semakin mudah diperoleh.
Kondisi ini membuat banyak pembeli sulit mendeteksi kecurangan hanya dari tampilan dashboard kendaraan. Tanpa pengecekan riwayat servis atau laporan kendaraan, mobil dengan kilometer palsu bisa terlihat normal.
Padahal, dampaknya tidak sederhana. Mobil dengan jarak tempuh yang dimanipulasi berpotensi mengalami keausan komponen yang tidak terdeteksi. Selain itu, pemilik baru juga bisa salah menentukan jadwal servis karena mengacu pada angka kilometer yang tidak akurat.
Masalah lain yang mengintai pembeli mobil bekas bukan hanya manipulasi odometer. Carfax bersama Dewan Industri Kendaraan Bermotor Ontario juga menyoroti berbagai modus lain seperti kloning VIN, pencucian surat kepemilikan kendaraan, riwayat kecelakaan yang disembunyikan, hingga jaminan atau utang kendaraan yang tidak diungkapkan.
Carfax bahkan menyebut sekitar 40 persen pemeriksaan jaminan menemukan adanya utang yang masih melekat pada kendaraan. Situasi tersebut bisa menimbulkan risiko bagi pembeli apabila kendaraan berpindah tangan sebelum kewajiban finansial dilunasi.
Meski begitu, pembeli tetap bisa melakukan langkah antisipasi. Salah satunya dengan memeriksa nomor identitas kendaraan atau VIN melalui layanan pengecekan kendaraan. Cara sederhana seperti menelusuri VIN di internet juga dapat membantu menemukan riwayat lelang, foto kerusakan lama, maupun catatan kilometer sebelumnya.
Selain itu, calon pembeli disarankan melakukan inspeksi menyeluruh di bengkel terpercaya sebelum memutuskan membeli mobil bekas. Pemeriksaan detail dapat membantu mendeteksi tanda-tanda kendaraan pernah mengalami manipulasi atau kerusakan berat.
Semakin canggihnya teknologi digital, praktik kecurangan di pasar mobil bekas juga ikut berkembang. Karena itu, ketelitian dan pemeriksaan menyeluruh menjadi kunci agar pembeli tidak terjebak membeli kendaraan dengan riwayat yang disembunyikan.
Editor: Dani M Dahwilani