Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Viral Mobil Lawan Arah Masuk Tol di Jakarta, Langsung Ditindak Polisi!
Advertisement . Scroll to see content

Amerika Siapkan Aturan Mobil Akan Mati bila Pengemudi Ketahuan Mabuk, Bagaimana Kalau Salah Deteksi?

Kamis, 19 Februari 2026 - 17:40:00 WIB
Amerika Siapkan Aturan Mobil Akan Mati bila Pengemudi Ketahuan Mabuk, Bagaimana Kalau Salah Deteksi?
Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyiapkan rencana penerapan teknologi anti-pengemudi mabuk pada kendaraan baru. (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyiapkan rencana penerapan teknologi anti-pengemudi mabuk pada kendaraan baru. Dorongan kebijakan itu tertuang dalam Undang-Undang Penghentian Mengemudi Mabuk yang mewajibkan produsen mobil memasang perangkat pasif guna mendeteksi gangguan pada pengemudi dan menonaktifkan kendaraan saat terindikasi tidak layak mengemudi.

Aturan tersebut sempat menghadapi upaya pemangkasan anggaran, namun berhasil lolos dari tekanan terbaru. Meski begitu, penolakan dari sejumlah pihak belum mereda karena muncul kekhawatiran teknologi itu bisa berdampak pada pengemudi yang sebenarnya dalam kondisi sadar.

Dilansir dari Carscops, Kamis (19/2/2026), berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) ditugaskan menyusun standar keselamatan baru. Standar itu nantinya mewajibkan seluruh mobil baru dilengkapi sistem deteksi gangguan pasif.

Regulasi ini tidak berarti setiap mobil akan dipasangi breathalyzer seperti yang digunakan aparat penegak hukum. Regulator memiliki fleksibilitas untuk menyetujui beragam pendekatan teknologi, mulai dari monitor kualitas udara kabin, pelacakan gerakan mata melalui kamera, hingga sensor sentuh yang memperkirakan kadar alkohol dalam darah pengemudi.

Sejumlah perusahaan teknologi otomotif telah mendemonstrasikan sistem gabungan yang memanfaatkan kamera pemantau pengemudi, analisis perilaku berkendara, serta sensor pendeteksi alkohol. Konsepnya dirancang bekerja secara pasif tanpa perlu interaksi langsung dari pengemudi.

Namun, penerapan sistem otomatis yang dapat menghentikan kendaraan memicu perdebatan luas. Kritik muncul bukan hanya dari kalangan politik, tetapi juga dari organisasi industri minuman beralkohol.

Presiden dan CEO Dewan Minuman Beralkohol Amerika Serikat, Chris Swonger menilai sejumlah kekhawatiran publik terlalu dibesar-besarkan. “Tidak ada saklar, tidak ada kontrol pemerintah, tidak ada berbagi data. Itu hanyalah taktik menakut-nakuti yang disayangkan,” ujarnya.

Kekhawatiran Salah Deteksi

Meski bantahan sudah disampaikan, kekhawatiran paling nyata justru berkaitan dengan potensi kesalahan sistem atau false positive. Jika teknologi salah mendeteksi kondisi pengemudi, kendaraan bisa menolak menyala atau berhenti beroperasi di saat krusial.

Bayangkan seorang pengemudi sadar hendak berangkat kerja, menjemput anak, atau bahkan melarikan diri dari situasi berbahaya. Jika algoritma membaca data secara keliru, mobil dapat menolak bergerak karena sistem menganggap pengemudi mengalami gangguan.

Anggota DPR AS, Thomas Massie, memberi ilustrasi ekstrem. Dia mencontohkan skenario seseorang yang membanting setir untuk menghindari hewan liar saat badai salju, lalu sistem justru menganggap manuver tersebut sebagai indikasi mabuk dan mematikan kendaraan.

Walau terdengar tidak lazim, perdebatan itu mencerminkan kekhawatiran tentang ketergantungan penuh pada algoritma. Dalam skala besar, kesalahan kecil bisa berdampak luas. Jika satu dari 10.000 pengemudi per hari mengalami salah deteksi, jumlahnya tetap signifikan di seluruh negeri.

Potensi Celah dan Masa Tunggu Regulasi

Di sisi lain, para pengkritik juga menyoroti kemungkinan sistem ini dapat diakali. Sejarah menunjukkan bahwa pengemudi mabuk yang berniat tetap berkendara kerap menemukan celah, mulai dari memanipulasi perangkat hingga menggunakan kendaraan lain yang tidak dilengkapi sistem serupa.

Perdebatan kini bergeser pada bagaimana regulator akan merumuskan standar final. NHTSA masih menyusun laporan yang nantinya diserahkan kepada Kongres AS.

Laporan tersebut diperkirakan baru rampung pada 2027. Artinya, kendaraan baru yang dipasarkan dalam beberapa tahun ke depan kemungkinan besar belum akan dilengkapi teknologi deteksi gangguan tersebut.

Perjalanan kebijakan ini masih panjang. Di satu sisi, pemerintah ingin menekan angka kecelakaan akibat pengemudi mabuk. Di sisi lain, publik menuntut jaminan agar teknologi keselamatan tidak justru menciptakan risiko baru bagi pengemudi yang patuh aturan.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut