UBN Soroti Proposal 10 Poin Iran ke AS: Indonesia Perlu Waspadai Kebijakan Selat Hormuz
JAKARTA, iNews.id - Ulama nasional sekaligus pengamat Timur Tengah, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), menyoroti proposal 10 poin yang diajukan Iran kepada Amerika Serikat. Dia menilai proposal itu bukan sekadar upaya menghentikan perang, melainkan strategi diplomasi yang memadukan kepentingan ekonomi dan keamanan.
"Dalam kacamata siyasah syar’iyyah (politik Islam), proposal ini mencerminkan upaya hifzhu al-mal (perlindungan harta) dan hifzhu al-nafs (perlindungan jiwa) melalui jalur mu’ahadah (perjanjian)," kata UBN dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).
Dia menyebut pendekatan tersebut sebagai bentuk rasionalisasi konflik menuju perundingan yang saling menguntungkan. Menurutnya, Iran tampak mengedepankan prinsip al-ashlu fi al-‘uqud al-ridha, yakni bahwa setiap perjanjian bertumpu pada kerelaan para pihak, dengan menukar jaminan keamanan navigasi dengan kompensasi ekonomi.
Dalam kerangka yang lebih luas, UBN melihat proposal tersebut sebagai respons darurat atas konflik berkepanjangan. "Langkah menuju ash-shulhu ad-da’im (perdamaian permanen) lebih utama daripada gencatan senjata rapuh yang berisiko mengulangi pengkhianatan," ujarnya.
Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) itu juga menyoroti poin penarikan pasukan asing dari kawasan sebagai upaya menegaskan kembali kedaulatan regional. Menurut dia, dominasi militer asing selama ini menjadi salah satu sumber instabilitas di Timur Tengah.