Tinjau Penanganan Banjir di Aceh Utara, Doni Monardo Beri Tiga Arahan
JAKARTA, iNews.id - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meninjau penanganan banjir di lokasi terdampak yaitu di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (10/12/2020). Dalam kunjungannya, Doni memberikan tiga arahan penanganan bencana baik untuk jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.
Untuk penanganan jangka pendek, menurutnya bisa dilakukan dengan memberikan perlindungan kepada masyarakat yang terdampak khususnya bagi mereka yang menjadi korban, termasuk bagi yang berada di pengungsian. Dia meminta agar penyelenggara pengungsian warga terdampak banjir dapat memisahkan antara kelompok rentan dengan mereka yang berusia muda untuk mencegah penularan Covid-19.
"Memisahkan antara kelompok yang rentan dengan masyarakat yang secara fisik sehat," ujar Doni dalam keterangan tertulis, Jumat (11/12/2020).
Doni menjelaskan kelompok yang masuk dalam kategori rentan meliputi lansia. Kemudian bagi mereka yang mempunyai penyakit penyerta atau komorbid, ibu hamil dan menyusui serta anak balita.
Doni Monardo Minta Masyarakat Tak Pergi Liburan saat Natal dan Akhir Tahun
"Itu wajib dipisahkan tidak boleh disatukan dengan kelompok yang usia muda," ucap Doni.
Dari segi penanganan darurat, BNPB akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mempercepat proses pengerukan sumbatan dan sedimentasi di bagian hilir agar genangan banjir segera surut.
“Kami juga akan memberikan dukungan bekerja sama dengan Kementerian PUPR untuk mempercepat agar aliran air yang ada di darat ini segera masuk ke laut,” kata Doni.
Saat memantau langsung dari udara, Doni melihat sendiri bagian hilir sungai mengalami penyempitan sehingga menjadi penyebab banjir. Menurutnya hal itu harus segera ditangani dengan mengerahkan sejumlah alat berat.
“Saya melihat adanya pendangkalan muara sungai dan penyempitan. Sehingga kita akan segera menyiapkan backhoe dan kendaraan amphibi,” ujar Doni.
Untuk mendukung upaya penanganna darurat jangka pendek tersebut, Doni Monardo memberikan bantuan langsung berupa kebutuhan logistik dan peralatan berupa 1 unit tenda pengungsi, 5.000 paket swab antigen, 100.000 masker kain, 10.000 masker KF94, 100 lembar matras, dan 100 lembar selimut.
Bantuan tersebut juga diberikan kepada sejumlah kabupaten/kota yang terdampak banjir seperti Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Bener Meriah, dan Provinsi Aceh. Kemudian untuk jangka menengah, BNPB akan memberikan dukungan pemulihan kembali infrastruktur bersama Kementerian PUPR, terutama perbaikan tanggul dan bantaran sungai yang rusak dengan konsep ekologi dan konservasi lingkungan.
Menurut Doni konsep ekologi yang akan diterapkan yaitu penguatan tanggul dengan tanaman vetiver atau yang lebih dikenal dengan akar wangi.
“Selain membangun kembali atau memulihkan kembali infrastruktur terutama tanggul-tanggul, ini nanti akan sandingkan dengan tanaman vetiver atau akar wangi,” kata Doni.
Dia menjelaskan akar tanaman vetiver memiliki kekuatan yang setara dengan 1/6 dari kekuatan kawat baja. Akar vetiver tersebut juga dapat tumbuh mencapai lebih dari lima meter ke dalam tanah dan dapat memperkuat tanggul beton.
“Ini akan membantu memperkuat tanggul-tanggul yang selama belasan tahun ini mengalami kerusakan,” kata Doni.
Selanjutnya untuk konsep jangka panjang, Doni mengajak seluruh pemangku kebijakan di daerah untuk mempertahankan ekosistem yang ada di hulu, khususnya di Kabupaten Bener Meriah. Ke depannya, dia meminta agar kemudian tidak ada alih fungsi lahan untuk kepentingan segelintir individu maupun kelompok.
“Tidak boleh ada alih fungsi lahan. Kita kembalikan fungsi konservasinya,” kata Doni.
Di sisi lain, Doni juga memberikan catatan agar dalam upaya pelestarian ekosistem di bagian hulu tersebut agar memperhatikan aspek ekonomi. Artinya, selain memberikan manfaat secara ekologis tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Oleh sebab itu, BNPB akan memberikan rekomendasi beberapa jenis tanaman yang dapat memberikan dua manfaat tersebut, seperti pohon alpukat, petai, sukun dan jenis tanaman lainnya.
“Tetapi juga masyarakat tentu harus mandapatkan nilai ekonomis dari kegiatan yang kita lakukan. Punya nilai ekonomis tetapi fungsi ekologisnya tidak boleh hilang. Oleh karena itu beberapa jenis tanaman nanti akan dipilih,” katanya.
Editor: Rizal Bomantama