Tahun Baru Islam di Tengah Pandemi, Perindo: Hijrah Menuju Tatanan Kehidupan Baru
JAKARTA, iNews.id - Partai Perindo menyebut perayaan Tahun Baru Islam 1443 Hijriah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perayaan di tengah pandemi Covid-19 memaksa masyarakat menyesuaikan dalam berbagai kegiatan, termasuk aktivitas keagamaan.
Ketua Bidang Keagamaan DPP Partai Perindo Abdul Khaliq Ahmad mengatakan, meski berbeda dengan sebelumnya, sesuatu yang dulu dianggap sulit, kini harus mampu dijadikan mudah. Sesuatu yang dirasakan tidak mungkin, harus dijadikan nyata.
"Kehidupan masyarakat saat ini sedang menjalankan hijrah menuju perubahan tatanan kehidupan baru," ujar Abdul Khaliq di Jakarta, Selasa (10/8/2021).
Dia mencontohkan, di dalam dunia pendidikan, guru dan dosen yang terbiasa dengan pembelajaran kelas konvensional tatap muka, kini mau tidak mau harus berhijrah dengan metode pengajaran daring.
"Tidak terhitung banyaknya adaptasi yang dibutuhkan. Tanpa semangat hijrah, akan sulit menerapkannya secara konsisten," katanya.
Selain itu, kata dia dari sisi keluarga para orangtua harus hijrah menjadi pengawas, pendamping sekaligus tutor bagi anak yang sedang menyelesaikan tugas akademik.
Dulu sebagian ibu bisa menemani anak di sekolah sambil mengobrol dengan ibu-ibu lain, saat ini mereka harus menemani anak bermain, belajar, termasuk tetap mengawasi saat buah hati belajar di rumah.
Dunia kerja, lanjut dia juga para pimpinan harus membuat skala prioritas dan memilih bidang-bidang pekerjaan mana yang membutuhkan kehadiran pegawai dan mana yang bisa dilakukan dari rumah atau work from home (wfh).
Potensi penularan Covid-19 dinilai terjadi jika semua dipaksakan kerja di kantor dan kemungkinan banyak orang yang terpapar virus tersebut sehingga memengaruhi peningkatan kasus positif Covid-19.
Dia juga menyampaikan, kalangan profesional harus mengubah kebiasaan berkumpul di kafe bersama teman atau kolega. Pertemuan yang biasa dilakukan setiap hari atau sepekan sekali, bisa diubah menjadi sebulan atau dua bulan sekali. Bahkan, tidak sama sekali sehingga bertemu secara virtual.
"Relevansi serta korelasi positif antara hijrah dan pandemi Covid-19 ini nyata, sehingga dapat dirasakan saat ini," ucapnya.
Kemudian dia juga mengingatkan, kewajiban muslim untuk tetap menjaga lima hal saat pendemi Covid-19, yakni hifz al-din atau menjaga agama, hifz al-nafs atau menjaga jiwa/nyawa, hifz al-aqal atau menjaga akal, hifz al-nasal atau menjaga keturunan dan hifz al-maal atau menjaga harta.
Sementara penanggulangannya, lanjut dia, pertama, peduli teknologi karena dalam situasi pandemi memaksa siapapun harus mampu menguasai menggunakan perangkat dan teknologi digital untuk mempermudah kepentingan pemenuhan urusan privat maupun publik.
Kedua, peduli lingkungan, terutama kesehatan dan keselamatan bersama. Disiplin terhadap protokol kesehatan dan kebijakan yang ditetapkan pemerintah sebagai pemegang otoritas dalam penanggulangan pandemi Covid-19.
Ketiga, peduli sosial di mana sikap empati terhadap penderita Covid-19 yang harus terus dipupuk. Dengan melakukan gerakan sosial dan kemanusiaan yang dapat meringankan beban bagi penderita dan keluarganya.
Keempat, peduli spiritual artinya kualitas ibadah makin ditingkatkan melalui berbagai ritual dan doa sesuai dengan ajaran agama dalam menghadapi tatanan kehidupan baru yang terus berubah.
Kelima, peduli perubahan dengan melakukan adaptasi terhadap lingkungan dan budaya akibat pandemi Covid-19. Mulai dari mengubah pola hidup, berpikir, berkomunikasi dan berinteraksi tanpa kehilangan jati diri.
"Upaya-upaya penanggulangan tersebut merupakan hikmah dari peristiwa hijrah sekaligus blessing in disguise bagi umat manusia," katanya.
Editor: Kurnia Illahi