Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Fakta Mengejutkan! Pasien DBD Butuh Waktu Pulih hingga 2 Pekan, Biaya Terus Bertambah
Advertisement . Scroll to see content

Studi UGM: Beban Ekonomi DBD di Indonesia Tembus Hampir Rp9 Triliun

Sabtu, 18 Juli 2026 - 23:32:00 WIB
Studi UGM: Beban Ekonomi DBD di Indonesia Tembus Hampir Rp9 Triliun
UGM mengungkap, beban ekonomi akibat dengue sepanjang 2024 mencapai USD550,9 juta atau hampir setara Rp9 triliun (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Demam berdarah dengue (DBD) ternyata tidak hanya menjadi persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan tekanan ekonomi yang besar bagi Indonesia. Studi terbaru Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkap, beban ekonomi akibat dengue sepanjang 2024 mencapai USD550,9 juta atau hampir setara Rp9 triliun. 

Kajian tersebut dilakukan oleh Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM. Penelitian ini menunjukkan dampak dengue tidak hanya berasal dari biaya pengobatan, tetapi juga kehilangan produktivitas pasien maupun keluarga yang mendampingi selama proses perawatan. 

Peneliti UGM, Dr Diah Ayu Puspandari, M.Kes., MBA., Apt mengatakan besarnya beban ekonomi tersebut menunjukkan bahwa dengue memberikan dampak luas terhadap sistem kesehatan, pasien, hingga keluarga.

Dalam studi itu, jumlah kasus rawat inap akibat dengue di Indonesia pada 2024 diperkirakan mencapai lebih dari 2 juta kasus. Kondisi tersebut membuat biaya yang harus ditanggung masyarakat dan sistem kesehatan menjadi semakin besar. 

Selain biaya medis, keluarga pasien juga menghadapi pengeluaran lain yang kerap tidak diperhitungkan. Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan masih harus mengeluarkan biaya pribadi (out of pocket) rata-rata Rp1,1 juta hingga Rp1,3 juta dalam satu episode sakit akibat dengue.

Pengeluaran tersebut umumnya digunakan untuk kebutuhan nonmedis, seperti transportasi menuju fasilitas kesehatan serta akomodasi anggota keluarga yang mendampingi pasien. Sementara pasien yang tidak memiliki jaminan kesehatan harus menanggung biaya lebih besar, yakni sekitar Rp4,3 juta hingga Rp5,6 juta karena seluruh biaya perawatan dibayar secara mandiri. 

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), mengatakan dampak dengue tidak berhenti ketika pasien selesai menjalani perawatan di rumah sakit.

Menurut dia, pasien biasanya masih membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua pekan untuk benar-benar pulih. Kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas keluarga, terutama ketika orang tua harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak yang sakit atau sebaliknya. 

Melihat besarnya dampak kesehatan dan ekonomi tersebut, para ahli menilai pencegahan dengue perlu dilakukan secara lebih menyeluruh. Upaya pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus perlu diperkuat dengan deteksi dini serta langkah pencegahan lain seperti vaksinasi dengue.

Pencegahan dinilai dapat membantu menekan jumlah kasus bergejala, angka rawat inap, hingga kematian akibat dengue, sekaligus mengurangi beban biaya yang harus ditanggung masyarakat dan negara dalam jangka panjang. 

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut